Tujuan Membina Bahtera Rumah Tangga

Membina sebuah rumah tangga ibarat mengayuh bahtera di tengah samudra yang luas. Agar bahtera tersebut tidak terombang-ambing tanpa arah, kita tentu membutuhkan kompas penunjuk jalan yang jelas. Di dalam Islam, sebuah pernikahan memiliki tujuan-tujuan luhur yang melampaui sekadar pelampiasan hasrat biologis. Memahami tujuan ini akan membuat suami dan istri tetap istiqomah saat menghadapi ombak ujian kehidupan.

Meraih Ketenangan Jiwa dan Kasih Sayang

Tujuan paling mendasar dari sebuah pernikahan adalah untuk menghadirkan ketenangan jiwa atau sakinah bagi sepasang insan. Allah ﷻ menciptakan manusia berpasang-pasangan agar mereka dapat saling melengkapi dan menenteramkan satu sama lain. Melalui ikatan suci ini, Allah ﷻ menanamkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus di dalam hati pasangan suami istri.

Allah ﷻ berfirman mengenai tanda kebesaran-Nya ini dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (QS. Ar-Rum: 21)

Selanjutnya, rasa tenteram inilah yang menjadi modal utama dalam membangun lingkungan rumah yang harmonis. Jika suami dan istri mampu saling memberikan ketenangan, maka rumah akan berubah menjadi tempat bernaung yang paling nyaman.

Menjaga Kehormatan Diri dan Melaksanakan Sunnah

Selain meraih ketenangan, membina rumah tangga juga bertujuan untuk membentengi kesucian diri dari berbagai godaan syahwat. Di zaman yang penuh fitnah ini, pernikahan merupakan perisai terbaik untuk menundukkan pandangan serta menjaga kemaluan. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan para pemuda yang sudah mampu untuk segera melangsungkan pernikahan.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, melaksanakan pernikahan berarti kita sedang mengamalkan salah satu sunnah para rasul yang paling utama. Dengan niat yang lurus, setiap aktivitas harian di dalam rumah tangga akan bernilai ibadah yang mendatangkan pahala melimpah.

Melahirkan Generasi Robbani yang Sholih

Tujuan mulia berikutnya dari membina bahtera rumah tangga adalah memperbanyak keturunan umat Nabi Muhammad ﷺ. Kita tidak hanya sekadar mencetak generasi penerus secara kuantitas, tetapi juga mengutamakan kualitas keimanan mereka. Rumah tangga harus menjadi madrasah pertama yang mengenalkan anak-anak kepada syari’at Islam sejak usia dini.

Di samping itu, anak yang sholih merupakan aset terbesar bagi orang tua, baik di dunia maupun setelah wafat. Melalui pendidikan yang berbasis tauhid, anak-anak akan tumbuh menjadi pembela agama sekaligus pendoa setia bagi orang tuanya. Akhirnya, visi besar untuk berkumpul kembali di dalam surga Allah ﷻ dapat terwujud secara nyata.

Semoga Allah ﷻ senantiasa memberkahi bahtera rumah tangga kita dan menuntunnya hingga berlabuh di dermaga janah-Nya. Amin.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top