Kunci Keberkahan dan Kemudahan Ilmu
Ilmu agama merupakan warisan berharga dari para nabi yang tidak dapat kita peroleh secara instan tanpa perantara. Oleh karena itu, keberadaan seorang guru pembimbing menjadi wasilah utama bagi kita untuk memahami syariat Islam secara benar. Di samping itu, tingkat keberkahan ilmu seorang penuntut ilmu sangat bergantung pada bagaimana ia bersikap dan beradab kepada gurunya.
Menghormati dan Memuliakan Kedudukan Guru
Langkah paling mendasar dalam berinteraksi dengan pendidik adalah menumbuhkan rasa hormat yang tulus di dalam sanubari. Kita harus memandang guru sebagai sosok yang berjasa besar karena telah menuntun kita keluar dari kegelapan kebodohan. Selain itu, memuliakan guru merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu syari yang sedang beliau ajarkan.
Allah ﷻ berfirman mengenai tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu di sisi-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11).
Oleh sebab itu, jika Allah ﷻ saja mengangkat derajat mereka, maka sudah seharusnya kita sebagai murid ikut memuliakan posisi mereka.
Bersabar Terhadap Sikap dan Teguran Guru
Selanjutnya, proses menuntut ilmu tidak selamanya berjalan dengan mulus tanpa adanya dinamika atau teguran. Seorang murid yang jujur harus memiliki ketahanan mental dan kelapangan dada saat menerima didikan yang tegas. Di samping itu, sikap tergesa-gesa dalam merasa sakit hati hanya akan memutus aliran keberkahan ilmu yang sedang kita serap.
Kisah Nabi Musa ketika belajar kepada Nabi Khidir menjadi teladan abadi mengenai pentingnya sebuah kesabaran. Nabi Musa berjanji untuk setia menyertai proses belajar tersebut sebagaimana Allah ﷻ abadikan dalam Al-Qur’an:
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Dia (Musa) berkata: Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun. (QS. Al-Kahfi: 69).
Mendengarkan Penjelasan Guru dengan Seksama
Kemudian, wujud nyata dari adab lahiriah adalah memperhatikan materi pelajaran dengan fokus dan ketenangan yang penuh. Kita wajib menjauhi aktivitas yang sia-sia seperti bermain gawai atau memotong pembicaraan saat guru sedang menjabarkan dalil. Terlebih lagi, menunjukkan antusiasme yang tinggi akan membuat guru merasa dihargai dan semakin bersemangat menuangkan ilmunya.
Sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما memberikan gambaran indah mengenai ketenangan para sahabat di hadapan Rasulullah ﷺ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ
Rasulullah ﷺ apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar seolah-olah beliau seorang komandan pasukan yang memperingatkan tentaranya. (HR. Muslim).
Mendengar ketegasan tersebut, para sahabat senantiasa menyimak dengan posisi duduk yang sangat tenang seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.
Mendoakan Kebaikan untuk Guru
Akhirnya, adab batiniah yang tidak boleh kita lupakan adalah menyelipkan nama guru-guru kita di dalam untaian doa. Kita memohon kepada Allah ﷻ agar senantiasa menjaga kesehatan, mengampuni dosa, dan melimpahkan pahala jariyah atas dedikasi mereka. Oleh karena itu, membalas kebaikan ilmu dengan doa tulus merupakan tanda kesetiaan seorang murid yang sejati.
Sebagai penutup, mari kita koreksi kembali bagaimana sikap kita terhadap para ustadz dan guru yang telah mendidik kita. Kita hiasi majelis ilmu dengan penerapan adab yang agung ini demi meraih keridhaan Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ memberkahi ilmu yang kita miliki dan mengumpulkan kita bersama para guru shaleh di surga-Nya kelak.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


