Membangun sebuah tatanan sosial yang harmonis tentu merupakan dambaan setiap insan di dunia ini. Namun, dalam pandangan Islam, masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang tinggal di wilayah yang sama secara kebetulan. Sebaliknya, masyarakat Islami adalah sebuah bangunan kokoh yang berdiri tegak di atas pondasi iman dan ketaatan mutlak kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, mewujudkan lingkungan seperti ini memiliki urgensi yang sangat besar bagi kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat kelak.
Tauhid sebagai Pondasi Kehidupan Sosial
Segala bentuk perbaikan dalam tatanan Islam selalu bermula dari pemurnian tauhid sebagai langkah awal. Hal ini dikarenakan masyarakat yang mengesakan Allah ﷻ akan memiliki standar moral yang seragam dan stabil. Selain itu, mereka tidak akan mudah terjebak dalam kepentingan pribadi karena mereka sadar bahwa Allah ﷻ senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Akibatnya, ketika tauhid telah menghujam kuat dalam jiwa, maka keadilan dan keamanan akan tercipta secara alami di tengah masyarakat.
Terkait hal tersebut, Allah ﷻ memberikan janji keamanan bagi orang-orang yang senantiasa menjaga kemurnian tauhidnya:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-An’am: 82).
Menjadi Umat Terbaik dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Selanjutnya, ciri utama dari masyarakat Islami adalah adanya kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sesama. Kita tentu tidak boleh membiarkan kemaksiatan merajalela begitu saja karena hal tersebut bisa mengundang bencana bagi semua orang. Oleh sebab itu, aktivitas mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemunkaran menjadi pilar yang sangat penting. Tanpa adanya budaya saling menasihati, maka masyarakat akan kehilangan arah serta identitasnya sebagai umat terbaik.
Mengenai karakter mulia ini, Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali Imran: 110).
Mewujudkan Persaudaraan yang Hakiki
Di samping itu, masyarakat Islami juga berfungsi menghapus sekat-sekat kasta maupun kesukuan yang sering kali berlebihan. Persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman terbukti jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan darah. Melalui persaudaraan ini, setiap anggota masyarakat akan saling menopang satu sama lain saat menghadapi kesulitan. Terkait hubungan ini, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai kedekatan antar orang beriman.
Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan merasa demam (HR. Muslim no. 2586).
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Ibadah
Kemudian, kita harus menyadari bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat dominan terhadap perilaku seseorang. Masyarakat yang islami tentu akan memudahkan setiap anggotanya untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ketaatan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk justru akan menyeret penghuninya ke dalam jurang kemaksiatan dengan sangat mudah. Dengan demikian, membangun suasana islami merupakan langkah nyata dalam menjaga masa depan generasi muda kita.
Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه menceritakan sabda Nabi ﷺ mengenai pengaruh teman dan lingkungan:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ
Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).
Sebagai kesimpulan, mewujudkan masyarakat yang sesuai dengan tuntunan Sunnah merupakan tanggung jawab kita bersama. Langkah mulia ini harus dimulai dari perbaikan diri sendiri, kemudian keluarga, hingga akhirnya meluas ke lingkungan sekitar secara bertahap. Oleh karena itu, mari kita berupaya maksimal untuk menghidupkan nilai-nilai Islam dalam interaksi sehari-hari demi meraih ridha Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|
