Adab Menyambut Pergantian Tahun Hijriyah

Perputaran waktu berjalan begitu cepat tanpa pernah kita sadari sebelumnya. Momentum pergantian tahun Hijriyah sering kali memicu berbagai bentuk perayaan di tengah masyarakat kita. Oleh karena itu, seorang muslim yang bijak perlu memahami bagaimana pandangan syariat dan adab yang benar dalam menyikapi perubahan kalender Islam ini.

Muhasabah Diri Atas Sisa Usia

Langkah utama yang harus kita lakukan saat momentum pergantian tahun adalah melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Kita perlu menghitung kembali berapa banyak amal shaleh yang telah kita kerjakan selama setahun yang lalu. Di samping itu, kita juga harus jujur mengakui dosa-dosa yang masih sering kita lakukan agar bisa segera bertaubat kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ mengingatkan kita semua untuk selalu memperhatikan bekal masa depan akhirat kita melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18).

Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk tidak membuang waktu dalam hura-hura yang tidak bermanfaat.

Mengagungkan Bulan Muharram Sebagai Bulan Haram

Selanjutnya, pergantian tahun Hijriyah menandai masuknya bulan Muharram yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Allah ﷻ menetapkan bulan ini sebagai salah satu dari empat bulan haram yang wajib kita hormati kesuciannya. Oleh sebab itu, adab yang benar adalah meningkatkan ketakwaan dan menjauhi segala bentuk kezaliman selama bulan ini berlangsung.

Abu Bakrah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukan bulan-bulan tersebut dalam sabdanya:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada dan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengisi Waktu dengan Memperbanyak Puasa Sunnah

Kemudian, wujud nyata dari adab menyambut bulan baru ini adalah dengan memperbanyak ibadah puasa. Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk bahwa puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar setelah puasa Ramadhan. Terutama, kita sangat dianjurkan untuk mengamalkan puasa Asyura pada tanggal sepuluh Muharram nanti.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan rekomendasi ibadah ini melalui sabdanya:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang bernama Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR. Muslim).

Menghindari Amalan Tanpa Tuntunan Syari

Akhirnya, seorang muslim yang beradab harus menjauhi perayaan pergantian tahun yang tidak memiliki dasar dalil dari As-Sunnah. Amalan seperti konvoi di jalan raya, menyalakan kembang api, atau membuat ritual khusus doa akhir tahun secara berjamaah tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Oleh karena itu, meninggalkan hal baru tersebut merupakan bentuk penjagaan kita terhadap kemurnian agama Islam.

Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas iman kita kepada Allah ﷻ. Kita manfaatkan sisa usia yang ada dengan memperbanyak amal kebaikan dan menuntut ilmu syari yang bermanfaat. Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan kita taufik untuk istiqomah di atas Sunnah nabi-Nya yang mulia.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top