Mengagungkan Rumah Allah
Masjid merupakan tempat yang paling mulia dan paling Allah ﷻ cintai di muka bumi ini. Oleh karena itu, berkunjung ke rumah Allah ﷻ menuntut kita untuk menunjukkan perilaku dan etika terbaik. Dengan menjaga adab di dalam masjid, kita tidak hanya menghormati kesucian tempat tersebut tetapi juga menjaga kenyamanan jamaah lainnya.
Memperhatikan Kebersihan dan Keharuman Badan
Langkah awal sebelum kita melangkahkan kaki ke masjid adalah memastikan kondisi fisik dalam keadaan bersih. Kita harus menjauhi makanan yang menimbulkan bau tidak sedap agar tidak mengganggu malaikat dan orang yang sedang shalat. Di samping itu, mengenakan pakaian terbaik yang suci dan rapi merupakan bentuk pengagungan terhadap syiar Islam.
Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tegas mengenai hal ini:
مَنْ أَكَلَ الثُّومَ وَالْبَصَلَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung, maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang membuat Bani Adam (manusia) merasa terganggu. (HR. Muslim).
Mendahulukan Kaki Kanan dan Menunaikan Shalat Tahiyyatul Masjid
Selanjutnya, kita harus memperhatikan tata cara saat memasuki area utama masjid. Sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, kita melangkah masuk menggunakan kaki kanan seraya memanjatkan doa memohon pintu rahmat Allah ﷻ. Selain itu, setelah berada di dalam, adab yang sangat utama adalah tidak langsung duduk sebelum kita mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.
Abu Qatadah Al-Anshari-رضي الله عنه-meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai penghormatan terhadap masjid:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia mengerjakan shalat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga Ketenangan dan Menghindari Obrolan Duniawi
Kemudian, suasana di dalam rumah Allah ﷻ harus senantiasa kondusif untuk ibadah, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Kita harus menahan diri dari berbicara dengan suara keras, termasuk melarang aktivitas jual beli di dalam masjid. Bahkan, mengencangkan suara bacaan Al-Qur’an hingga mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang shalat pun tidak diperbolehkan.
Allah ﷻ berfirman mengenai kedudukan masjid-masjid yang harus kita muliakan:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. (QS. An-Nur: 36).
Keluar Masjid dengan Tenang dan Tertib
Akhirnya, setelah kita selesai menunaikan rangkaian ibadah, kita melangkah keluar dengan mendahulukan kaki kiri. Kita iringi langkah tersebut dengan membaca doa memohon karunia dan perlindungan-Nya dari godaan setan. Oleh sebab itu, menjaga ketertiban saat bubar dari saf shalat akan menyempurnakan keindahan adab kita selama berada di area masjid.
Sebagai penutup, mari kita jadikan masjid sebagai tempat untuk mendulang pahala dengan menerapkan etika-etika syari ini. Semoga Allah ﷻ senantiasa menautkan hati kita dengan masjid dan menerima setiap amalan shaleh yang kita kerjakan di dalamnya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



