Sang Mujahid dan Maestro Fikih Perbandingan
Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdisi رحمه الله lahir di Jamma’il, Palestina, pada tahun 541 Hijriah. Tokoh besar ini tumbuh menjadi salah satu ulama paling cemerlang dalam sejarah peradaban Islam, khususnya dalam madzhab Hanbali. Dunia mengenal beliau sebagai sosok mufasir, ahli hadits, dan pakar fikih perbandingan yang sangat legendaris di masanya. Beliau sukses mengabdikan seluruh umurnya untuk menulis, mengajar, dan ikut berjuang membela kesucian bumi kaum Muslimin. Oleh karena itu, nama beliau tetap menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mendalami hukum Islam secara komprehensif.
Hijrah Ilmiah Menuju Damaskus dan Baghdad
Maka, awal perjalanan hidup Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi رحمه الله penuh dengan perjuangan berat karena beliau harus hijrah bersama keluarganya demi menghindari kekejaman tentara Salib. Beliau kemudian menetap di Damaskus sebelum akhirnya melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke kota Baghdad yang penuh dengan keberkahan ilmu. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi hamba-Nya yang beriman serta berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu sukses mengantarkannya berguru kepada para ulama raksasa seperti Abdul Qadir Al-Jilani di Irak. Beliau tidak hanya sekadar menghafal matan-matan hukum, namun beliau juga sangat mahir dalam membedah dalil-dalil syar’i secara mendalam. Maka, pengakuan luas dari para ulama sezamannya menjadikan beliau sebagai samudera ilmu yang memiliki wawasan fikih sangat luas. Beliau memahami bahwa mengamalkan ilmu merupakan perwujudan nyata dari keimanan yang kokoh kepada Sang Pencipta. Sosok berwibawa ini berhasil membuktikan bahwa kesulitan hidup di masa pengungsian justru menempuh jiwanya menjadi pribadi yang sangat tangguh.
Mahakarya Al-Mughni dan Kejujuran Beragama
Selain ahli hadits, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi رحمه الله merupakan penulis yang sangat produktif yang telah melahirkan banyak kitab fundamental. Karya monumentalnya yang paling spektakuler di dunia Islam adalah kitab Al-Mughni, yang menjadi rujukan emas dalam ilmu fikih perbandingan madzhab. Beliau menyusun kitab tersebut dengan memaparkan dalil-dalil dari seluruh madzhab secara objektif tanpa adanya sifat fanatik kelompok. Beliau senantiasa memegang teguh prinsip kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap ulasan hukum yang beliau sampaikan selalu memiliki landasan dalil Al-Quran dan Sunnah yang sangat otentik. Beliau sukses memberikan kemudahan bagi para penuntut ilmu untuk mengetahui inti perbedaan pendapat di kalangan para imam madzhab secara jernih. Kemudian, beliau juga menulis kitab akidah yang sangat penting seperti Lum’atul I’tiqad guna menjaga kemurnian pemahaman akidah umat Islam. Sifat rendah hati beliau menjadikannya tetap terbuka terhadap argumen yang lebih kuat meskipun beliau memiliki otoritas keilmuan yang sangat raksasa. Keberhasilan beliau terletak pada kemampuannya menyajikan hukum Islam dengan bahasa yang santun, indah, dan sangat mudah masyarakat pahami.
Keshalehan Spiritual di Medan Jihad dan Akhir Hayat
Kemudian, sisi spiritual Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi رحمه الله memancar kuat melalui keberaniannya ikut serta dalam pasukan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk membebaskan Baitul Maqdis. Beliau meyakini bahwa tanda utama dari seorang ulama sejati adalah memiliki rasa takut yang besar kepada Allah ﷻ yang berujung pada pengorbanan jiwa dan harta. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para hamba-Nya yang berilmu di dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, beliau tidak hanya mendekam di dalam perpustakaan, namun beliau juga hadir memberikan motivasi keimanan bagi para mujahid di garis depan pertempuran. Beliau sukses mendidik generasi Muslim melalui keteladanan sifat wara’, zuhud, dan kebiasaannya yang selalu mengkhatamkan Al-Quran secara istiqamah. Walaupun beliau memiliki pengaruh sosial yang sangat luas di Suriah dan Palestina, beliau tetap memilih hidup dalam kesederhanaan yang bersahaja. Pengabdian beliau yang tulus selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah intelektual Muslim serta menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan Islam.
Pada akhirnya, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi رحمه الله wafat di Damaskus pada tahun 620 Hijriah tepat pada hari raya Idul Fitri dalam usia delapan puluh sembilan tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh dunia Islam karena hilangnya sang pelita hukum fikih dan pembela Sunnah. Namun, warisan karya tulisnya tetap hidup menyinari jalan para penuntut ilmu dan peneliti syariat di seluruh penjuru bumi hingga hari ini. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keikhlasan dalam berilmu dan berjuang akan melahirkan kemuliaan yang abadi.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


