Prinsip Ishlah dalam Islam

Solusi Syar’i untuk Mengatasi Perselisihan Umat

Menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia tentu membutuhkan kelapangan dada yang sangat besar. Namun, gesekan sosial atau kesalahpahaman kadang kala tetap terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat. Islam sebagai agama yang sempurna tidak membiarkan konflik tersebut berlarut-larut hingga merusak persaudaraan. Oleh karena itu, syariat Islam memperkenalkan prinsip ishlah atau upaya mendamaikan pihak yang berselisih sebagai solusi terbaik.

Urgensi Mendamaikan Saudara yang Berselisih

Langkah awal untuk membangun masyarakat yang kuat adalah dengan menjaga kerukunan antar anggotanya. Ketika terjadi pertikaian antara dua orang muslim, maka anggota masyarakat yang lain tidak boleh bersikap cuek. Sebaliknya, kita memiliki kewajiban moral untuk hadir menjadi penengah yang adil dan bijaksana. Hal ini terjadi karena membiarkan konflik terus membesar hanya akan melemahkan kekuatan umat secara keseluruhan.

Allah ﷻ menegaskan kewajiban mulia ini dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat: 10).

Keutamaan Besar di Balik Amalan Ishlah

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa aktivitas mendamaikan orang lain memiliki nilai pahala yang sangat luar biasa. Bahkan, kedudukan amalan ini bisa melampaui pahala ibadah sunnah harian seperti shalat, puasa, dan sedekah. Di samping itu, Islam memberikan kelonggaran khusus berupa kebolehan berkata bohong demi kebaikan saat proses mendamaikan. Dengan demikian, syariat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah di atas ego pribadi.

Abu Darda رضي الله عنه menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah? Para sahabat menjawab: Tentu saja wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu mendamaikan perselisihan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama adalah pengikis agama (HR. Abu Dawud no. 4919 dan Tirmidzi no. 2509, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Al-Jami’ no. 2595).

Bahaya Membiarkan Permusuhan Berlarut-larut

Di samping itu, kita wajib mengetahui dampak buruk dari memelihara kebencian dan enggan berdamai. Seseorang yang sengaja memutuskan hubungan dengan saudaranya akan menghadapi kerugian besar di akhirat kelak. Hal ini dikarenakan Allah ﷻ akan menunda ampunan-Nya bagi dua orang muslim yang sedang terlibat dalam aksi boikot. Oleh sebab itu, segera menyambut perdamaian merupakan tanda kematangan iman dan kejernihan hati seseorang.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan peringatan:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun akan diampuni dosanya, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan: Tundalah pengampunan bagi kedua orang ini sampai keduanya berdamai (HR. Muslim no. 2565).

Sebagai kesimpulan, menerapkan prinsip ishlah dalam Islam adalah kunci utama untuk merawat persatuan umat yang hakiki. Langkah mulia ini harus kita budayakan mulai dari lingkup terkecil seperti menyelesaikan perselisihan di dalam rumah tangga. Melalui upaya yang konsisten dan penuh keikhlasan, kita berharap ketentraman masyarakat Islami dapat terjaga dengan kokoh. Oleh karena itu, mari kita senantiasa menjadi pembawa kedamaian demi meraih cinta dan keridhaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top