Majelis ilmu merupakan salah satu tempat yang paling mulia di muka bumi karena menjadi taman dari taman-taman surga. Oleh karena itu, menghadiri kajian Islam menuntut kita untuk menjaga etika dan norma syari. Dengan menerapkan adab yang benar saat menuntut ilmu, kita akan memperoleh keberkahan serta kemudahan dalam memahami setiap pelajaran.
Melapangkan Tempat Duduk Bagi Orang Lain
Langkah awal saat kita memasuki ruangan kajian adalah memperhatikan kenyamanan sesama penuntut ilmu. Kita tidak boleh bersikap serakah dengan menguasai tempat duduk melebihi kebutuhan diri sendiri. Di samping itu, memberikan kelapangan bagi saudara muslim yang baru datang merupakan amalan mulia yang akan mendatangkan kelapangan dari Allah ﷻ.
Allah ﷻ menegaskan keutamaan orang yang bersikap lapang dalam majelis melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. (QS. Al-Mujadilah: 11).
Menjaga Ketenangan dan Tidak Menyela Pembicaraan
Selanjutnya, suasana yang tenang menjadi syarat mutlak agar proses transfer ilmu berjalan dengan optimal. Kita wajib mendengarkan penjelasan materi dengan penuh konsentrasi tanpa menyela pembicaraan pengajar. Selain itu, hindari berbisik-bisik atau melakukan aktivitas sia-sia yang dapat memecah fokus peserta lain di sekitar kita.
Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه menggambarkan bagaimana ketenangan para sahabat ketika berada dalam majelis Rasulullah ﷺ melalui riwayatnya:
قَعَدْنَا فِي الْمَسْجِدِ فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَنَّا عَلَى رُؤُوسِنَا الطَّيْرَ لَا يَتَكَلَّمُ أَحَدٌ مِنَّا
Kami duduk di masjid, lalu Rasulullah ﷺ keluar menemui kami. Maka keadaan kami seolah-olah di atas kepala kami terdapat burung, tidak ada seorang pun di antara kami yang berbicara. (HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i).
Tidak Memindahkan Orang Lain dari Tempat Duduknya
Kemudian, Islam mengajarkan persamaan hak bagi setiap penuntut ilmu yang datang lebih awal. Kita sama sekali tidak diperbolehkan menyuruh orang lain berdiri hanya agar kita bisa menempati posisi tersebut. Oleh sebab itu, mengambil tempat yang masih kosong secara sopan merupakan wujud keadilan dalam berinteraksi.
Ibn Umar رضي الله عنهما meriwayatkan larangan tegas dari Nabi ﷺ mengenai hal ini:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقِيمَ الرَّجُلُ أَخَاهُ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسَ فِيهِ
Nabi ﷺ melarang seseorang menyuruh saudaranya berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia duduk di tempat tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).
Membaca Doa Kaffaratul Majelis Sebelum Berpisah
Akhirnya, sebelum kita meninggalkan ruangan kajian, adab penutup yang sangat penting adalah membaca doa pembersih dosa. Kita menyadari bahwa selama berada di dalam majelis, mungkin ada kata-kata yang tidak berguna atau kesalahan yang tidak sengaja kita perbuat. Oleh karena itu, memohon ampunan kepada Allah ﷻ akan menyempurnakan amal ibadah kita.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keutamaan doa ini:
مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak perkataan yang tidak berguna di dalamnya, kemudian sebelum berdiri dari majelis itu dia mengucapkan: Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu, melainkan diampuni baginya apa yang terjadi di majelisnya tersebut. (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).
Sebagai penutup, mari kita praktikkan seluruh etika ini setiap kali kita melangkahkan kaki menuju majelis-majelis kebaikan. Kita niatkan seluruh ikhtiar ini murni untuk meraih keridhaan Allah ﷻ semata. Semoga Allah ﷻ memudahkan jalan kita menuju surga-Nya melalui majelis ilmu yang kita hadiri.


