Hidup kita tidak lepas dari keluarga besar. Ada paman, bibi, sepupu, dan kerabat lain yang punya hubungan darah dengan kita. Islam memerintahkan kita menjaga hubungan itu dengan baik.
Namun, kesibukan sering membuat kita lupa menyapa mereka. Karena itu, mari kita simak tuntunan Al-Qur’an dan hadits shahih tentang silaturahmi.
Makna Silaturahmi
Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab, yaitu shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung, sedangkan rahim berarti kerabat. Dengan demikian, silaturahmi adalah menyambung hubungan baik dengan kerabat melalui kunjungan, bantuan, dan kasih sayang.
Perintah Silaturahmi dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ memerintahkan kita menjaga hubungan kekerabatan, dan Dia menyebutnya setelah perintah bertakwa. Allah ﷻ berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa’: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahmi termasuk bagian dari takwa.
Keutamaan Menyambung Silaturahmi
Rezeki Lapang dan Umur Panjang
Silaturahmi membawa keberkahan yang nyata dalam hidup. Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa umur panjang di sini bisa berarti keberkahan waktu dan amal. Sebagian ulama juga memahaminya sebagai tambahan umur yang sebenarnya.
Silaturahmi Bukan Sekadar Balas Budi
Selanjutnya, Nabi ﷺ menjelaskan siapa penyambung silaturahmi yang sejati. Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
Dari Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: Penyambung silaturahmi bukanlah orang yang sekadar membalas kebaikan. Penyambung silaturahmi yang sejati adalah orang yang tetap menyambungnya ketika kerabatnya memutuskan hubungan. (HR. Bukhari)
Jadi, kita tetap menyambung silaturahmi meski kerabat bersikap dingin kepada kita.
Bahaya Memutus Silaturahmi
Sebaliknya, Al-Qur’an mengancam keras orang yang memutus hubungan kekerabatan. Allah ﷻ berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ﴿٢٢﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ ﴿٢٣﴾
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat, lalu Dia tulikan pendengaran mereka dan butakan penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22-23)
Lebih lanjut, Jubair bin Muth’im رضي الله عنه meriwayatkan peringatan Nabi ﷺ:
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Dari Jubair bin Muth’im رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Pemutus silaturahmi tidak akan masuk surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itu, jangan biarkan perselisihan kecil merusak hubungan keluarga.
Cara Mudah Menyambung Silaturahmi
Silaturahmi tidak harus rumit. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
- Pertama, kunjungi kerabat, terutama pada hari raya dan saat mereka sakit.
- Kedua, hubungi mereka lewat telepon atau pesan singkat.
- Ketiga, berikan hadiah kecil sebagai tanda kasih sayang.
- Keempat, bantu mereka ketika kesulitan.
- Terakhir, maafkan kesalahan mereka dan doakan kebaikan untuk mereka.
Penutup
Pada akhirnya, silaturahmi adalah kunci keberkahan hidup dan jalan menuju surga. Oleh karena itu, mulailah dari kerabat terdekat, lalu teruskan kepada yang lebih jauh. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang gemar menyambung tali persaudaraan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


