Setelah kemarau yang panjang, hujan akhirnya turun. Tanah yang retak kembali basah, udara terasa sejuk, dan banyak orang menarik napas lega. Karena itu, kita perlu menyambut hujan dengan rasa syukur, bukan sekadar kegembiraan biasa. Bagaimana cara bersyukur atas karunia hujan menurut Al-Qur’an dan sunnah? Mari kita simak bersama.
Kemarau Panjang Mengingatkan Kelemahan Manusia
Selama berbulan-bulan, sawah mengering dan sumur menyusut. Akibatnya, banyak orang kesulitan mencari air bersih. Petani pun cemas karena gagal panen mengintai. Pada saat seperti itu, manusia sadar bahwa ia tidak mampu menurunkan setetes hujan pun. Oleh sebab itu, hanya kepada Allah ﷻ kita bergantung.
Hujan adalah Rahmat Allah ﷻ setelah Manusia Putus Asa
Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. (QS. Asy-Syūrā: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa hujan turun tepat pada waktu yang Allah ﷻ tetapkan. Bahkan ketika manusia hampir putus asa, Allah ﷻ tetap melimpahkan rahmat-Nya. Dengan demikian, kemarau panjang tidak boleh membuat kita berburuk sangka kepada-Nya.
Hujan Menghidupkan Bumi dan Menjadi Sumber Rezeki
Selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan manfaat hujan bagi kehidupan:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ رِّزْقًا لِّلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ
Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen, dan pohon kurma yang menjulang tinggi dengan mayang yang tersusun rapi, sebagai rezeki bagi hamba-hamba, dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (QS. Qāf: 9-11)
Jadi, hujan bukan sekadar air. Hujan membawa keberkahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.
Hujan Bukti Kekuasaan Allah ﷻ
Di sisi lain, Allah ﷻ mengajak kita merenung:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
Maka pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan air itu asin. Mengapa kamu tidak bersyukur? (QS. Al-Wāqi‘ah: 68-70)
Cara Bersyukur atas Karunia Hujan
Syukur membawa kabar gembira yang besar. Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrāhīm: 7)
Lalu, apa saja wujud syukur atas hujan?
1. Meyakini Bahwa Hujan Turun karena Karunia Allah ﷻ
Pertama, kita meyakini bahwa Allah ﷻ semata yang menurunkan hujan. Zaid bin Khalid Al-Juhani رضي الله عنه meriwayatkan:
صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
Zaid bin Khalid رضي الله عنه berkata: Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Seusai shalat, beliau menghadap jamaah dan bertanya, “Tahukah kalian apa yang Rabb kalian firmankan?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah berfirman: Pagi ini sebagian hamba-Ku beriman kepada-Ku dan sebagian kafir. Adapun yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,’ maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sebaliknya, yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka dialah yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dengan kata lain, hujan tidak turun karena bintang, musim, atau perhitungan semata. Semuanya terjadi atas takdir dan karunia Allah ﷻ.
2. Menyambut Hujan dengan Gembira
Selain itu, kita meneladani Rasulullah ﷺ yang menyambut hujan dengan penuh kegembiraan. Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:
أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: Hujan turun ketika kami bersama Rasulullah ﷺ. Beliau lalu menyingkap pakaiannya hingga terkena air hujan. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?” Beliau menjawab, “Karena hujan ini baru saja datang dari Rabb-nya Ta‘ala.” (HR. Muslim)
3. Berdoa Ketika Hujan Turun
Berikutnya, kita memperbanyak doa. Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Apabila Nabi ﷺ melihat hujan, beliau berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.” (HR. Al-Bukhari)
Setelah hujan reda, ucapkan pula مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ sebagai ungkapan syukur. Artinya, kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya.
4. Memanfaatkan Air dengan Bijak
Terakhir, kita menjaga nikmat ini. Misalnya, kita menampung air hujan untuk keperluan yang bermanfaat dan tidak membuang air secara berlebihan. Kita juga menjaga selokan agar tidak tersumbat. Dengan begitu, hujan tetap menjadi rahmat, bukan musibah.
Penutup
Hujan yang turun setelah kemarau panjang mengajarkan kita untuk bersabar, berharap, dan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita sambut karunia ini dengan iman, doa, dan amal. Semoga Allah ﷻ menjadikan hujan sebagai rahmat dan keberkahan bagi kita semua.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

