Setiap hari kita berjalan kaki atau berkendara menuju sekolah, kantor, pasar, maupun masjid. Islam memberi perhatian pada aktivitas ini karena di jalan kita bertemu banyak orang. Oleh karena itu, adab di jalan mencerminkan akhlak seorang muslim. Artikel ini membahas adab berjalan dan berkendara berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Berjalan dengan Tenang dan Rendah Hati
Allah ﷻ memuji hamba-hamba-Nya yang berjalan dengan penuh ketenangan.
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Adapun hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan salam. (QS. Al-Furqan: 63)
Sebaliknya, Allah ﷻ melarang kesombongan saat melangkah. Luqman berpesan kepada putranya:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ، وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sederhanakanlah langkahmu dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (QS. Luqman: 18-19)
Adab Berjalan Kaki
Memakai Sepasang Sandal
Rasulullah ﷺ mengajarkan adab sederhana yang sering terlupakan. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan:
لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ، لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا، أَوْ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal saja. Hendaklah ia memakai keduanya, atau melepas keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5855 dan Muslim no. 2097)
Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
Selain itu, Islam menganggap menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari iman. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman itu tujuh puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)
Dengan demikian, memungut paku, batu, atau pecahan kaca di jalan termasuk amal yang bernilai iman.
Menunaikan Hak Jalan
Kemudian, Nabi ﷺ menjelaskan hak jalan kepada para sahabat. Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه meriwayatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا، فَقَالَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ
Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه berkata: Nabi ﷺ bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak punya tempat lain untuk berbincang.” Beliau bersabda, “Jika kalian enggan meninggalkannya, berikanlah hak jalan.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang lain, menjawab salam, serta memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar.” (HR. Al-Bukhari no. 2465 dan Muslim no. 2121)
Adab Berkendara
Memberi Salam
Pengendara pun memiliki adab ketika bertemu orang lain. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan:
يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Al-Bukhari no. 6231 dan Muslim no. 2160)
Membaca Doa Naik Kendaraan
Sebelum berangkat, bacalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Abdullah bin Umar رضي الله عنهما menceritakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Abdullah bin Umar رضي الله عنهما berkata: Apabila Rasulullah ﷺ telah duduk mantap di atas untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali, lalu membaca: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan (kendaraan) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Rabb kami pasti kami kembali. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga.” (HR. Muslim no. 1342)
Tidak Membahayakan Orang Lain
Terakhir, seorang pengendara wajib menjaga keselamatan sesama. Ia tidak boleh ugal-ugalan atau menerobos aturan lalu lintas. Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 2341, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Oleh karena itu, mematuhi rambu dan menjaga kecepatan termasuk bagian dari ajaran Islam.
Penutup
Adab di jalan meliputi berjalan dengan tawadhu, memakai sepasang sandal, dan menyingkirkan gangguan. Lebih lanjut, tunaikan hak jalan, berilah salam, serta bacalah doa saat berkendara. Terakhir, jagalah keselamatan semua pengguna jalan. Dengan adab-adab ini, setiap perjalanan kita menjadi ibadah yang penuh keberkahan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


