Kunci Kekuatan dan Kejayaan Masyarakat Islami

Menjaga keutuhan barisan di tengah perbedaan merupakan sebuah keniscayaan bagi kaum muslimin saat ini. Namun, banyak orang yang melupakan bahwa persatuan sejati tidak akan pernah terwujud tanpa adanya pondasi syariat yang benar. Islam sendiri sangat menekankan pentingnya membangun kedamaian dan kebersamaan di antara sesama mukmin dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita wajib memahami cara memupuk persatuan ummat agar terhindar dari perpecahan yang merusak.

Berpegang Teguh pada Tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah

Langkah paling awal untuk menyatukan hati manusia adalah dengan kembali kepada bimbingan wahyu yang murni. Hal ini terjadi karena akal manusia memiliki keterbatasan dalam merumuskan standar kebenaran yang mutlak bagi semua orang. Ketika semua pihak bersedia menundukkan ego mereka di hadapan dalil, maka perselisihan akan mereda dengan sendirinya. Akibatnya, tali persaudaraan akan semakin menguat karena kita semua berjalan di atas jalur manhaj yang sama.

Allah ﷻ memberikan perintah yang sangat tegas mengenai pentingnya persatuan ini:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS. Ali Imran: 103).

Larangan Saling Mencela dan Menghina Sesama Muslim

Selanjutnya, kita wajib menjauhi segala bentuk perilaku buruk yang dapat merobek tenunan persaudaraan di masyarakat. Sikap suka merendahkan, mencari-cari kesalahan, atau memanggil dengan julukan yang buruk merupakan pemicu utama keretakan sosial. Di dalam tatanan masyarakat Islami, setiap orang harus saling menghormati dan menjaga lisan mereka dengan sangat hati-hati. Dengan demikian, suasana lingkungan yang harmonis, penuh kasih sayang, dan aman akan tercipta secara nyata.

Terkait hal ini, Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang perilaku yang merusak persatuan:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najas (menawar barang untuk menipu), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR. Muslim no. 2564).

Saling Menopang Seperti Bangunan yang Kokoh

Di samping itu, kekuatan umat Islam sangat bergantung pada kekompakan setiap individu dalam bekerja sama demi kebaikan. Kita tidak boleh membiarkan saudara kita berjuang sendirian saat mereka menghadapi kesulitan atau tertimpa musibah. Sebaliknya, setiap komponen masyarakat harus mengambil peran aktif untuk saling membantu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Melalui kepedulian sosial yang tinggi ini, umat Islam akan tumbuh menjadi sebuah kekuatan yang disegani oleh lawan.

Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه menyampaikan perumpamaan yang sangat indah dari Nabi ﷺ mengenai persatuan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).

Mengutamakan Sikap Lapang Dada dalam Perbedaan

Kemudian, kita juga harus menyadari bahwa perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiah merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun, kita tidak boleh menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling memboikot atau bermusuhan secara membabi buta. Sikap bijaksana dan dewasa dalam berdialog akan membantu kita untuk tetap menjaga kebersamaan di bawah naungan ukhuwah. Oleh sebab itu, mari kita kedepankan persatuan dalam hal-hal pokok dan saling bertoleransi dalam perkara cabang.

Sebagai penutup, memupuk persatuan ummat adalah tugas mulia yang membutuhkan kesabaran serta kelapangan dada dari kita semua. Langkah nyata ini tentu harus segera kita mulai dari lingkungan keluarga kecil kita, masjid tempat tinggal, hingga masyarakat luas. Melalui upaya yang konsisten, kita berharap Allah ﷻ senantiasa menurunkan rahmat dan kejayaan bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, mari kita terus merapatkan barisan demi meraih keridhaan Allah ﷻ yang agung.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top