Sang Maestro Tafsir Hukum dari Andalusia
Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi رحمه الله lahir di kota Kordoba, Spanyol, pada awal abad ketujuh Hijriah. Tokoh besar ini tumbuh menjadi salah satu ulama paling cemerlang dalam sejarah emas peradaban Islam di wilayah Barat. Dunia mengenal beliau melalui karya tafsirnya yang sangat legendaris dan menjadi rujukan utama dalam penggalian hukum fikih Al-Quran. Beliau sukses mengabdikan seluruh umurnya untuk mempelajari dan menyebarkan ilmu agama demi membimbing masyarakat menuju jalan kebenaran.
Pengembaraan Ilmiah dari Kordoba Menuju Mesir
Maka, awal pengembaraan ilmiah Imam Al-Qurthubi رحمه الله dimulai di tanah kelahirannya dengan mempelajari bahasa Arab, hadits, dan fikih madzhab Maliki. Beliau kemudian memutuskan untuk merantau ke wilayah Timur, khususnya ke Mesir, setelah Kordoba jatuh ke tangan tentara Kristen. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan serta derajat yang tinggi bagi para pemilik ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu sukses membawanya bertemu dengan para ulama besar di kota Kairo, Iskandariyah, dan Fayyum. Beliau tidak hanya sekadar menguasai satu madzhab, namun beliau juga mendalami perbandingan hukum fikih antar madzhab secara objektif. Beliau memahami bahwa menjaga kemurnian pemahaman syariat merupakan tugas suci yang menuntut ketelitian serta kejujuran ilmiah yang sangat tinggi. Keberadaan beliau di Mesir memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan ilmu tafsir dan hadits di kawasan tersebut. Sosok berwibawa ini berhasil membuktikan bahwa perpindahan tempat tidak akan menyurutkan semangat seorang mukmin dalam berkarya untuk umat.
Mahakarya Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran dan Kejujuran Beragama
Selain ahli hadits, Imam Al-Qurthubi رحمه الله merupakan seorang mufasir yang sangat produktif dalam menuliskan hidayah Al-Quran bagi pembaca. Karya agungnya yang paling spektakuler di dunia Islam adalah kitab Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, yang populer dengan nama Tafsir Al-Qurthubi. Beliau menyusun kitab tafsir tersebut dengan fokus mengeksplorasi ayat-ayat hukum serta menjauhkan pembaca dari kisah-kisah Israiliyat yang tidak berdasar. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’uud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّdْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap penjelasan hukum dalam tafsirnya selalu bernilai objektif tanpa adanya sifat fanatik buta terhadap madzhab Maliki. Beliau sukses menyajikan argumen-argumen fikih secara jernih serta sangat menghormati pendapat para imam madzhab lainnya dengan adil. Kemudian, beliau juga menulis kitab eskatologi yang sangat terkenal seperti Al-Tadzkirah bi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah. Sifat rendah hati beliau menjadikannya tetap memilih hidup bersahaja serta fokus beribadah meskipun namanya telah harum di berbagai negeri. Keberhasilan beliau terletak pada kemampuannya menyederhanakan problematika hukum fikih yang rumit menjadi uraian yang sangat mudah dipahami.
Keshalehan Spiritual dan Akhir Hayat Sang Mufasir
Kemudian, sisi spiritual Imam Al-Qurthubi رحمه الله memancar kuat melalui gaya hidupnya yang zuhud dan selalu qana’ah dalam keseharian. Beliau meyakini bahwa tanda utama dari seorang ulama yang sejati adalah memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sesungguhnya di dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, setiap untaian nasihat dalam karya-karyanya selalu mengarahkan pembaca untuk memperbanyak amal shaleh demi keselamatan akhirat. Beliau sukses mendidik generasi Muslim melalui keteladanan akhlaknya yang mulia serta konsistensinya dalam menjaga lisan dan pena dari keburukan. Walaupun beliau telah tiada, kitab-kitabnya tetap menjadi kurikulum wajib di berbagai universitas Islam terkemuka di seluruh belahan dunia. Pengabdian beliau yang tulus selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah intelektual Muslim secara berkelanjutan hingga hari ini.
Pada akhirnya, Imam Al-Qurthubi رحمه الله wafat di kota Munyah Bani Khasib, Mesir, pada tahun 671 Hijriah dalam usia yang penuh berkah. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya sang pelita ilmu hukum dari tanah Andalusia. Namun, warisan karya tulisnya tetap hidup menyinari jalan para penuntut ilmu dan peneliti syariat di seluruh penjuru bumi. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keikhlasan dalam membela Al-Quran akan melahirkan kemuliaan yang abadi.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



