Al-Farabi رحمه الله

Dalam sejarah ilmu, sebagian tokoh mendapat gelar yang sangat tinggi. Salah satunya adalah Al-Farabi رحمه الله, yang dijuluki Guru Kedua dalam filsafat. Siapakah beliau, dan bagaimana kita menyikapi warisan pemikirannya?

Mengenal Al-Farabi

Nama lengkap beliau adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Al-Farabi. Beliau lahir sekitar tahun 872 M di daerah Farab, Asia Tengah. Nama Al-Farabi merujuk pada tempat kelahiran tersebut.

Kemudian beliau menuntut ilmu di Baghdad, pusat ilmu pengetahuan saat itu. Setelah itu, beliau pindah ke Aleppo dan wafat di Damaskus sekitar tahun 950 M.

Mengapa Dijuluki Guru Kedua?

Para pemikir Yunani menganggap Aristoteles sebagai Guru Pertama dalam ilmu mantik atau logika. Al-Farabi mendapat gelar Guru Kedua karena beliau banyak menjelaskan dan menyusun ulang karya-karya logika tersebut. Berkat usahanya, para pelajar berbahasa Arab lebih mudah memahami ilmu itu.

Namun, gelar ini adalah julukan sejarah semata. Gelar tersebut tidak berarti seluruh pemikiran beliau benar atau layak diikuti.

Sumbangsih Al-Farabi

Beliau menulis banyak karya dalam berbagai bidang. Berikut beberapa di antaranya.

Penggolongan Ilmu

Dalam kitab Ihsha’ Al-‘Ulum, beliau menyusun ilmu ke dalam beberapa kelompok, mulai dari bahasa, logika, matematika, hingga fiqih. Dengan demikian, pelajar mengetahui urutan dan hubungan antarilmu.

Ilmu Musik

Selain itu, beliau menulis kitab besar tentang musik dan alat-alatnya. Karya ini menunjukkan keluasan wawasan beliau.

Gagasan tentang Negeri yang Ideal

Beliau juga menulis tentang kota yang utama dan pemimpinnya. Meski demikian, banyak gagasan di dalamnya berasal dari filsafat Yunani, sehingga kita perlu menimbangnya dengan wahyu.

Hikmah yang Sebenarnya

Allah ﷻ memuji hikmah dalam Al-Qur’an:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal. (Al-Baqarah: 269)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hikmah yang utama adalah ilmu dan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, kita menilai ilmu apa pun dengan timbangan wahyu.

Menyikapi Filsafat dengan Bijak

Sebagian ulama mengkritik pemikiran filsafat Al-Farabi. Misalnya, Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah رحمهما الله menjelaskan bahwa banyak pandangan para filsuf bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Kritik itu muncul karena akal tidak mampu menjangkau urusan gaib secara mandiri.

Rasulullah ﷺ telah memberi pedoman yang jelas:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim no. 867)

Dengan pedoman ini, kita bersikap seimbang. Kita menghargai jasa seorang ilmuwan, tetapi kita tidak menjadikan pendapatnya sebagai ukuran kebenaran.

Pelajaran dari Al-Farabi

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan beliau.

Semangat Belajar yang Tinggi

Al-Farabi menempuh perjalanan jauh demi ilmu. Oleh karena itu, kita pun perlu bersungguh-sungguh dalam belajar.

Wahyu sebagai Timbangan

Akal yang cerdas tetap membutuhkan bimbingan wahyu. Dengan demikian, setiap pemikiran harus kita ukur dengan Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat رضي الله عنهم.

Adil dalam Menilai

Terakhir, kita mengambil yang bermanfaat dan meninggalkan yang bertentangan dengan wahyu. Sikap adil ini menjaga kita dari sikap berlebihan dalam memuji maupun mencela.

Penutup

Al-Farabi رحمه الله adalah tokoh besar dalam sejarah ilmu, khususnya dalam logika. Meski begitu, wahyu tetap menjadi sumber kebenaran yang tertinggi. Semoga Allah ﷻ memberi kita ilmu yang bermanfaat dan pemahaman yang lurus.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top