Memimpin dengan Kelembutan
Pada dasarnya, rumah tangga yang tenteram berawal dari suami yang tahu cara memimpin. Namun, kepemimpinan dalam Islam tidak berarti keras atau semena-mena. Justru, Islam mengajarkan suami untuk memimpin dengan kelembutan. Oleh karena itu, artikel ini membahas adab suami terhadap istri berdasarkan dalil yang shahih.
Suami adalah Pemimpin Rumah Tangga
Pertama, Allah ﷻ menetapkan tanggung jawab kepemimpinan di pundak suami.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Laki-laki itu adalah pemimpin bagi para perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa’: 34)
Selanjutnya, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa setiap pemimpin kelak mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Abdullah bin Umar رضي الله عنهما berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas orang yang ia pimpin; penguasa yang memimpin manusia adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas rakyatnya; seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan bertanggung jawab atas mereka; seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan bertanggung jawab atas mereka; seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan bertanggung jawab atasnya; ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas orang yang ia pimpin.” (HR. Muslim no. 1829)
Dengan demikian, jabatan suami adalah amanah, bukan alat untuk berkuasa.
Kelembutan Menghiasi Kepemimpinan
Di samping itu, kelembutan menjadi kunci utama dalam memimpin keluarga. Dalam hal ini, Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Aisyah رضي الله عنها berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali memperindahnya, dan tidaklah lenyap dari sesuatu kecuali memperburuknya.” (HR. Muslim no. 2594)
Maka dari itu, suami yang lembut membuat rumah menjadi tempat yang nyaman. Sebaliknya, sikap kasar hanya menjauhkan hati istri dan anak-anaknya.
Bergaul dengan Cara yang Baik
Berikutnya, Allah ﷻ memerintahkan suami untuk menggauli istrinya dengan baik.
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Pergaulilah mereka dengan cara yang baik, dan jika kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah, karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisa’: 19)
Dengan demikian, ayat ini mengajarkan kesabaran. Sebab, terkadang suami melihat kekurangan istri, padahal Allah ﷻ menyimpan banyak kebaikan di baliknya.
Meneladani Rasulullah ﷺ di Rumah
Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ menjadikan perlakuan terhadap istri sebagai tolok ukur kebaikan seseorang, sebagaimana riwayat Aisyah رضي الله عنها:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Aisyah رضي الله عنها berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895 dan Ibnu Majah no. 1977, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Selain itu, beliau tidak segan membantu urusan rumah. Misalnya, Al-Aswad pernah bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها tentang kegiatan beliau di rumah.
مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
Al-Aswad bertanya, “Apa yang biasa Nabi ﷺ lakukan di rumahnya?” Aisyah رضي الله عنها menjawab, “Beliau membantu pekerjaan keluarganya, dan ketika waktu shalat tiba, beliau segera berdiri untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676)
Penerapan Praktis dalam Keseharian
Agar mudah, suami bisa memulai dari langkah sederhana. Pertama, berbicaralah dengan nada tenang, terutama ketika marah. Kedua, dengarkan keluh kesah istri dengan sabar. Ketiga, bantulah pekerjaan rumah sesuai kemampuan. Selain itu, bermusyawarahlah sebelum mengambil keputusan penting. Terakhir, ucapkan terima kasih atas jerih payah istri.
Penutup
Singkatnya, suami adalah pemimpin yang kelak mempertanggungjawabkan keluarganya. Karena itu, ia perlu memimpin dengan kelembutan, kesabaran, dan teladan Rasulullah ﷺ. Dengan begitu, rumah tangga menjadi tenteram dan penuh keberkahan. Pada akhirnya, suami terbaik adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


