Poros Madzhab Syafi’i dan Teladan Ulama Rabbani
Yahya bin Syaraf An-Nawawi رحمه الله lahir di Nawa pada tahun 631 Hijriah. Beliau tumbuh menjadi ulama paling berpengaruh yang karyanya sangat populer di seluruh dunia Islam. Beliau sukses memanfaatkan usianya yang relatif singkat untuk menyusun kitab-kitab pilar yang terus dibaca hingga hari ini.
Masa Muda dan Ketekunan di Damaskus
Awalnya, Imam An-Nawawi رحمه الله merantau ke Damaskus pada usia sembilan belas tahun guna menimba ilmu. Beliau membaca dan menghafal belasan pelajaran rumit setiap hari tanpa kenal lelah. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketekunan beliau sukses memukau para guru hingga beliau menjadi rujukan utama madzhab Syafi’i. Beliau mengabaikan kemewahan duniawi demi memfokuskan pikiran pada penggalian hukum syariat. Beliau memahami bahwa mengikhlaskan niat merupakan kunci utama untuk meraih keberkahan yang hakiki.
Mahakarya Populer dan Ketaatan Beragama
Selain ahli fikih, Imam An-Nawawi رحمه الله merupakan penyusun kitab panduan hidup harian yang sangat berkah. Karya agungnya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyah menjadi rujukan wajib kaum Muslimin. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran sesuai dengan perintah Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, karya beliau seperti Syarh Shahih Muslim selalu menyajikan analisis yang sangat jernih. Beliau juga terkenal sangat berani dalam menyampaikan nasihat tertulis kepada penguasa demi membela rakyat kecil. Sifat rendah hati beliau menjadikannya tetap menolak gaji dan hadiah demi menjaga independensi ilmunya.
Keshalehan Spiritual dan Akhir Hayat
Kemudian, sisi spiritual Imam An-Nawawi رحمه الله memancar kuat melalui gaya hidupnya yang sangat zuhud dan bersahaja. Beliau meyakini bahwa tanda ulama sejati adalah memiliki rasa takut yang besar kepada Sang Pencipta. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, malam-malam beliau selalu terisi dengan shalat, dzikir, serta penulisan karya yang bermanfaat. Beliau sukses mendidik generasi Muslim melalui keteladanan akhlaknya yang sangat santun secara istiqamah. Pengabdian beliau yang tulus telah menjadikan namanya harum terpuji di segenap penjuru peradaban Islam.
Pada akhirnya, Imam An-Nawawi رحمه الله wafat di Nawa pada tahun 676 Hijriah dalam usia empat puluh lima tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam karena dunia kehilangan sang samudera ilmu. Namun, warisan karya tulisnya tetap abadi menyinari jalan para pencari keridhaan Allah ﷻ di seluruh bumi.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


