Peran seorang pendidik tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran di depan kelas atau majelis ilmu. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab moral untuk membimbing jiwa dan membentuk karakter murid-muridnya. Oleh karena itu, pendekatan yang berlandaskan kasih sayang dan keteladanan nyata menjadi kunci utama keberhasilan dalam mendidik.
Mendidik dengan Kelembutan dan Kasih Sayang
Proses transfer ilmu akan terasa sangat menyejukkan apabila seorang pendidik memosisikan dirinya sebagai orang tua spiritual. Rasa kasih sayang akan membuka pintu hati para murid sehingga ilmu lebih mudah terserap dengan baik. Di samping itu, sikap santun yang diperlihatkan oleh pendidik mampu meruntuhkan rasa takut dan keraguan di dalam diri penuntut ilmu.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan terbaik bagaimana beliau mengajar dengan penuh kelembutan. Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami رضي الله عنه mengisahkan pengalaman belajarnya bersama Nabi ﷺ:
فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي
Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum maupun sesudahnya yang lebih baik cara mengajar daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencelaku. (HR. Muslim).
Keteladanan Nyata Sebelum Menyampaikan Nasihat
Selanjutnya, kekuatan sebuah ajaran terletak pada keselarasan antara ucapan dan perbuatan pendidik itu sendiri. Murid akan jauh lebih mudah meniru perilaku positif yang mereka lihat secara langsung daripada sekadar mendengarkan teori. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus menjadi cermin pertama dari nilai-nilai kebaikan yang ia sampaikan.
Allah ﷻ mengingatkan kita semua akan pentingnya menyelaraskan kata dengan perbuatan melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS. Ash-Saff: 2).
Melalui peringatan tersebut, seorang guru dituntut untuk mempraktikkan ilmu terlebih dahulu sebelum memerintahkannya kepada orang lain.
Memahami Karakter dan Kebutuhan Murid
Kemudian, adab guru yang tidak kalah penting adalah memahami tingkat pemahaman setiap murid yang berbeda-beda. Pendidik yang bijak tidak akan memaksakan standar yang sama kepada seluruh peserta didik secara kaku. Terlebih lagi, perhatian secara individual akan membuat setiap murid merasa dihargai dan termotivasi untuk berkembang.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ mengatur waktu pembimbingan agar murid tidak merasa jenuh:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّمَامَةِ عَلَيْنَا
Nabi ﷺ selalu mengatur waktu dalam memberikan nasihat kepada kami pada hari-hari tertentu karena khawatir menimbulkan rasa bosan pada kami. (HR. Bukhari dan Muslim).
Mendoakan Keberkahan untuk Para Murid
Akhirnya, wujud tertinggi dari rasa kasih sayang seorang guru adalah mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya di balik kelambu malam. Doa tulus dari pendidik memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah ﷻ. Oleh karena itu, menyelipkan kebaikan murid dalam setiap sujud akan menghadirkan keberkahan ilmu yang membekal hingga akhirat.
Sebagai penutup, mari kita hadirkan kembali ruh pendidik yang penuh kasih dan sarat keteladanan dalam setiap majelis. Kita niatkan seluruh ikhtiar mengajar ini murni untuk mengharap keridhaan Allah ﷻ semata. Semoga Allah ﷻ menguatkan para guru untuk terus membimbing generasi penerus di atas jalan Sunnah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


