Meneladani Kelembutan Rasulullah ﷺ

Hikmah Dakwah dalam Bermasyarakat

Menyampaikan kebenaran serta mengajak manusia menuju jalan Allah ﷻ tentu memerlukan pendekatan yang tepat. Namun, sebagian orang sering mengedepankan sikap keras dan terburu-buru saat menasihati sesama. Padahal, Islam mengajarkan metode dakwah yang mengedepankan sifat kelembutan, kesabaran, dan hikmah yang mendalam. Oleh karena itu, meneladani kelembutan Rasulullah ﷺ menjadi pilar penting untuk menyentuh hati masyarakat agar mau menerima kebenaran.

Kelembutan sebagai Rahmat dari Allah

Langkah awal untuk membimbing masyarakat adalah dengan menanamkan kasih sayang di dalam dada kita. Kelembutan sikap yang Nabi Muhammad ﷺ tampilkan merupakan rahmat besar yang Allah ﷻ karuniakan kepada beliau. Sikap ramah dan bersahabat inilah yang membuat para sahabat merasa nyaman serta merapat di sekeliling beliau. Sebaliknya, sikap yang kasar dan keras hati hanya akan membuat orang lain lari serta menjauh dari dakwah Islam.

Allah ﷻ menegaskan hakikat kelembutan ini dalam firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS. Ali Imran: 159).

Kelembutan Memperindah Segala Urusan

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa sifat lembut akan senantiasa membawa keindahan dalam setiap aspek kehidupan. Ketika seseorang menyampaikan nasihat dengan tutur kata yang santun, maka pesan tersebut akan lebih mudah masuk ke dalam lubuk hati. Sebaliknya, cara-cara yang kasar hanya akan menghiasi amalan dengan keburukan dan memicu penolakan. Oleh sebab itu, menghiasi interaksi sosial dengan kelembutan merupakan kunci keberhasilan dakwah di tengah warga.

Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keberkahan kelembutan:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikannya indah), dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan ia akan memperburuknya (HR. Muslim no. 2594).

Allah Menyukai Kelembutan dalam Setiap Hal

Di samping itu, syariat Islam menegaskan bahwa Allah ﷻ sangat mencintai hamba-Nya yang mengedepankan kelembutan dalam berinteraksi. Bahkan, Allah ﷻ memberikan balasan pahala bagi sikap lembut yang tidak Pernah Dia berikan kepada sikap yang kasar. Di dalam kehidupan bermasyarakat, mengendalikan emosi serta merespon kesalahan orang lain secara bijaksana akan melahirkan kedamaian. Oleh karena itu, mengikis sifat pemarah merupakan langkah nyata dalam meneladani Sunnah Nabi ﷺ.

Aisyah رضي الله عنها menceritakan sabda Rasulullah ﷺ tentang kasih sayang Allah ﷻ:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعَنَفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada kekerasan dan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya (HR. Muslim no. 2593).

Mengajar dengan Hikmah Tanpa Menyiti Hati

Kemudian, kita bisa menyaksikan bukti nyata kelembutan Rasulullah ﷺ saat beliau mendidik orang yang berbuat kesalahan karena ketahuannya. Beliau tidak langsung memarahi atau memukul, melainkan memberikan penjelasan secara pelan dan penuh kasih sayang. Metode mendidik seperti inilah yang sanggup merubah perilaku buruk seseorang menjadi ketaatan yang tulus. Oleh karena itu, mari kita contoh cara beliau dalam menegur anggota keluarga maupun tetangga sekitar.

Mu’awiyah bin Al-Hakam Al-Sulami رضي الله عنه menceritakan kesannya saat diajari oleh Nabi ﷺ:

فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي

Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang pendidik pun sebelum maupun sesudahnya yang lebih baik bimbingannya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencaciku (HR. Muslim no. 537).

Sebagai kesimpulan, meneladani kelembutan Rasulullah ﷺ merupakan modal utama dalam membangun tatanan masyarakat Islami yang sejuk. Langkah mulia ini tentu harus kita latih secara konsisten mulai dari membiasakan tutur kata yang santun sehari-hari. Melalui pendekatan yang hikmah dan lembut, kita berharap hidayah Allah ﷻ menyapa hati orang-orang di sekitar kita. Oleh sebab itu, mari kita buang jauh-jauh sikap kasar demi menggapai cinta dan keridhaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top