Imam Al-Baghawi رحمه الله

Sang Penjaga Sunnah dan Mufassir Al-Quran

Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ Al-Baghawi رحمه الله lahir pada tahun 433 Hijriah di kota Bagh, wilayah Khurasan. Beliau merupakan seorang ulama besar yang mendapatkan julukan mulia Ruknuddin (Tiang Agama) dan Muhyis Sunnah (Menghidupkan Sunnah). Dunia Islam mengenal beliau sebagai tokoh yang sangat ahli dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, hadits, hingga fikih. Beliau sukses menempatkan dirinya sebagai rujukan utama bagi umat Islam melalui karya-karyanya yang sangat barakah dan mudah dipahami.

Perjalanan Intelektual dan Pengabdian pada Ilmu

Awalnya, Imam Al-Baghawi رحمه الله memulai perjalanan ilmiahnya dengan mendalami ilmu syariat di bawah bimbingan para ulama terkemuka di tanah kelahirannya. Beliau merupakan murid paling cerdas dari Al-Qadhi Husain Al-Marwazi yang sangat terkenal dalam madzhab Syafi’i. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang beriman serta memiliki ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu sukses membuahkan pemahaman yang sangat mendalam mengenai kaitan antara wahyu dan Sunnah secara utuh. Beliau tidak hanya sekadar menghafal teks riwayat, namun juga sangat piawai dalam menjelaskan kandungan maknanya secara jernih dan beradab. Maka, pengakuan dari para ulama sezamannya menjadikan beliau sebagai salah satu pilar intelektual Islam yang sangat disegani pada masanya. Beliau memahami bahwa menjaga kemurnian sabda Rasulullah ﷺ merupakan amanah ilmiah yang sangat luhur dan harus tetap manusia jaga kesuciannya.

Karya Monumental dalam Tafsir dan Hadits

Selain ahli hadits, Imam Al-Baghawi رحمه الله sangat terkenal melalui karya monumentalnya yang berjudul Ma’alimut Tanzil (Tafsir Al-Baghawi). Beliau menyusun kitab tafsir tersebut dengan sangat rapi serta menjauhi riwayat-riwayat yang tidak berdasar guna menjaga kemurnian pemahaman Al-Quran. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya agar selalu bersikap jujur. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, setiap ulasan beliau dalam kitab Syarhus Sunnah selalu menjadi rujukan penting bagi para penuntut ilmu untuk memahami metodologi para sahabat. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai integritas dengan cara menyebutkan dalil-dalil yang shahih dalam setiap penjelasan hukum maupun akidah Islam. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati serta memiliki sifat wara’ yang sangat kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sifat tawadhu beliau menjadikannya tetap dicintai oleh masyarakat meskipun ia memiliki pengaruh yang sangat luas di seluruh penjuru dunia Islam. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemampuannya untuk melindungi hati umat dari segala bentuk penyimpangan.

Keshalehan Pribadi dan Wafatnya Sang Imam

Kemudian, sisi spiritual Imam Al-Baghawi رحمه الله terpancar melalui ketekunannya dalam menjalankan ibadah serta kehidupannya yang sangat sederhana. Beliau meyakini bahwa kedalaman ilmu syariat haruslah membuahkan rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta dalam setiap tarikan napasnya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama hebat yang terus menjaga kemurnian akidah dan Sunnah Nabi ﷺ secara konsisten. Beliau sukses menempatkan diri sebagai pembela ajaran yang murni melalui karya-karya tulisnya yang sangat sistematis dan tepercaya bagi peradaban. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam melayani para murid yang ingin menyerap ilmu darinya di kota Marwu. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah literatur Islam dengan dokumentasi ilmu yang sangat lengkap bagi umat manusia.

Pada akhirnya, Imam Al-Baghawi رحمه الله wafat di kota Marwu pada tahun 516 Hijriah dalam usia delapan puluh tiga tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu penjaga Sunnah yang paling bersinar. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab tafsir dan haditsnya tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran sejati di seluruh dunia. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa dedikasi tulus terhadap ilmu akan membuahkan keberkahan yang tak pernah putus bagi peradaban.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top