Sang Malikul Ulama dan Arsitek Fikih Hanafi
Abu Bakar bin Mas’ud bin Ahmad Al-Kasani رحمه الله lahir di Kasan, sebuah kota di wilayah Transoxiana. Tokoh besar ini tumbuh menjadi salah satu ulama paling fenomenal dalam sejarah peradaban Islam, khususnya dalam madzhab Hanafi. Dunia mengenal beliau dengan gelar kehormatan Malikul Ulama (Raja Para Ulama) karena kedalaman ilmu serta kemampuannya menyusun hukum Islam secara sangat rapi. Beliau sukses menempatkan dirinya sebagai ahli fikih, pakar ushul, dan penyusun kitab hukum yang sangat melegenda hingga hari ini.
Pengembaraan Ilmu dan Perikahan yang Penuh Berkah
Awalnya, Imam Al-Kasani رحمه الله menimba ilmu dari ulama besar madzhab Hanafi, yaitu Alauddin As-Samarqandi, hingga menguasai berbagai cabang ilmu syariat. Beliau kemudian memperdalam pemahamannya mengenai metodologi penetapan hukum dengan sangat tekun. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan serta derajat yang tinggi bagi hamba-Nya yang berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu membuatnya dipersuntingkan dengan Fatimah binti Alauddin As-Samarqandi, seorang wanita alimah yang juga pakar fikih. Mas kahir pernikahan beliau berupa penjelasan kitab Tuhfatul Fuqaha karya mertuanya, yang kelak menjelma menjadi kitab raksasa. Momen indah tersebut menjadi bukti nyata bahwa ilmu agama merupakan perhiasan paling berharga bagi seorang Muslim. Beliau memahami bahwa mengabdi pada ilmu syariat membutuhkan kesungguhan serta niat yang murni demi mengharap keridhaan Allah ﷻ.
Mahakarya Bada’i As-Sana’i dan Kejujuran Beragama
Selain ahli ushul, Imam Al-Kasani رحمه الله merupakan seorang penulis yang sangat jenius dalam memetakan cabang-cabang hukum fikih. Karya agungnya yang paling spektakuler adalah kitab Bada’i As-Sana’i fi Tartib Asy-Syara’i, sebuah ensiklopedia fikih dengan sistematika yang belum pernah ada sebelumnya. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap uraian hukum dalam kitabnya selalu menyajikan struktur logika yang sangat kuat beserta dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah. Beliau sukses menghadirkan karya yang memudahkan para hakim dan peneliti fikih untuk menemukan argumen hukum secara cepat dan akurat. Bahkan, Sultan Nuruddin Zanki mengundang beliau ke Aleppo guna memimpin Madrasah Al-Halawiyyah sebagai bentuk penghormatan atas kealiman beliau. Keberhasilan beliau terletak pada kemampuannya menyusun aturan-aturan hukum syariat menjadi uraian yang sangat indah, teratur, dan begitu jelas.
Keshalehan Spiritual dan Akhir Hayat Sang Malikul Ulama
Kemudian, sisi spiritual Imam Al-Kasani رحمه الله memancar kuat melalui gaya hidupnya yang penuh dengan ketakwaan dan ketundukan batin. Beliau meyakini bahwa tanda utama dari seorang ulama sejati adalah memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta dalam setiap keadaannya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, beliau senantiasa mengisi hari-harinya dengan mengajar, beribadah, serta mendampingi istrinya dalam membina masyarakat. Beliau sukses mendidik para murid hebat serta meninggalkan warisan intelektual yang menjadi pilar utama madzhab Hanafi. Seluruh pengabdiannya yang tulus telah memperkaya peradaban Muslim dengan metodologi penyusunan fikih yang sangat rasional dan berlandaskan wahyu.
Pada akhirnya, Imam Al-Kasani رحمه الله wafat di kota Aleppo pada tahun 587 Hijriah dalam keadaan penuh kedamaian. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya sang arsitek fikih yang sangat agung. Namun, kitab Bada’i As-Sana’i tetap abadi menyinari jalan para penuntut ilmu dan peneliti hukum syariat di seluruh penjuru bumi hingga hari ini.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


