Pergantian tahun dalam kalender Islam merupakan momen yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Sejatinya, kedatangan Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar perubahan angka pada kalender semata. Akan tetapi, momentum ini harus menjadi sarana bagi kita untuk membangkitkan semangat dalam meraih ketaqwaan yang hakiki.
Hakikat Hijrah Menuju Ketaqwaan
Secara historis, penanggalan hijriyah mengacu pada peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa besar tersebut mengandung pelajaran tentang pengorbanan demi mempertahankan aqidah Islam. Allah ﷻ berfirman mengenai perintah untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyar: 18).
Melalui ayat tersebut, Allah ﷻ mengajak kita semua untuk melakukan evaluasi diri secara mendalam. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan pergantian tahun ini sebagai ajang mengoreksi seluruh amal perbuatan pada masa lalu.
Makna Hijrah di Masa Sekarang
Meskipun peristiwa perpindahan secara fisik telah selesai, namun hakikat hijrah dalam bentuk maknawi tetap berlaku hingga akhir zaman. Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan yang sangat universal mengenai siapakah orang yang berhijrah yang sebenarnya. Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan sabda beliau ini, kita memahami bahwa hijrah kontemporer berarti meninggalkan segala kemaksiatan. Di samping itu, kita harus berkomitmen untuk mengalihkan seluruh potensi diri menuju ketaatan kepada Allah ﷻ.
Langkah Praktis Mengawali Tahun Baru
Selanjutnya, terdapat beberapa langkah nyata yang dapat kita lakukan untuk menyambut lembaran tahun yang baru. Pertama, kita perlu memperbaharui niat dan memperbanyak istigfar atas khilaf yang telah berlalu. Kemudian, umat Islam sebaiknya menyusun target-target ibadah yang lebih baik dan konsisten daripada tahun sebelumnya.
Selain daripada itu, kita juga harus terus menjaga keistiqomahan dalam menghadiri majelis ilmu syar’i. Akhirnya, penguatan iman ini akan membuahkan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Oleh sebab itu, marilah kita melangkah dengan optimisme tinggi demi menggapai rida-Nya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Tahun Baru Hijriyah adalah gerbang emas untuk membuka lembaran amal yang lebih suci. Melalui semangat hijrah yang tulus, kita pasti mampu meningkatkan kualitas ketaqwaan secara berkelanjutan. Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua di tahun yang baru ini.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

