Menumbuhkan Rasa Tawadhu’

Menghancurkan Sekat Kasta dalam Masyarakat

Menjaga kerendahan hati merupakan salah satu mahkota akhlak bagi setiap muslim dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak orang yang sering terjebak dalam rasa bangga diri saat memiliki kelebihan harta, ilmu, atau kedudukan. Padahal, Islam secara tegas mengajarkan sifat tawadhu’ untuk mengikis kesombongan dan mempererat ikatan persaudaraan. Oleh karena itu, kita perlu senantiasa berusaha menumbuhkan rasa tawadhu’ demi meraih kemuliaan yang hakiki di sisi Allah ﷻ.

Hakikat Tawadhu’ dan Perintah Kerendahan Hati

Langkah awal untuk memiliki sifat tawadhu’ adalah dengan memahami hakikatnya secara benar sesuai ajaran agama. Tawadhu’ berarti menerima kebenaran dari siapa pun serta tidak memandang diri lebih utama daripada orang lain. Di samping itu, sifat mulia ini akan melahirkan sikap saling menghormati tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial. Akibatnya, masyarakat yang mengamalkan tawadhu’ akan terhindar dari perpecahan dan perselisihan yang tidak perlu.

Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk selalu rendah hati melalui firman-Nya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS. Asy-Syu’ara: 215).

Allah Memuliakan Orang yang Bersifat Tawadhu’

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa sikap rendah hati sama sekali tidak akan menurunkan derajat seseorang di mata manusia. Sebaliknya, Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi siapa saja yang bersikap tawadhu’ karena mengharap keridhaan-Nya. Ketinggian derajat ini bisa berupa rasa hormat dari sesama di dunia maupun pahala yang melimpah di akhirat. Oleh sebab itu, menanggalkan kesombongan merupakan jalan pintas menuju kemuliaan yang sejati.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan ini:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya (HR. Muslim no. 2588).

Menjauhi Kesombongan yang Merusak Amal

Di samping itu, kita wajib membentengi diri dari sifat sombong yang menjadi lawan utama dari tawadhu’. Kesombongan merupakan benih utama yang membuat iblis terusir dari surga Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sombong adalah sikap menolak kebenaran serta memandang remeh orang lain dalam interaksi harian. Oleh karena itu, membersihkan hati dari rasa bangga diri menjadi syarat mutlak agar amal ibadah kita diterima.

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه menceritakan sabda Nabi ﷺ mengenai bahaya kesombongan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah dari kesombongan (HR. Muslim no. 91).

Meneladani Kesederhanaan Rasulullah dalam Bermasyarakat

Kemudian, kita bisa melihat contoh tawadhu’ yang paling sempurna pada diri Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun beliau merupakan seorang pemimpin agung, beliau tidak ragu untuk menyapa anak-anak kecil dan membantu pekerjaan rumah tangga. Sikap ramah beliau membuat setiap orang merasa dihargai dan dicintai tanpa adanya sekat pembatas. Oleh karena itu, meneladani kesederhanaan beliau akan membimbing kita menjadi pribadi yang dicintai oleh lingkungan sekitar.

Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan sikap rendah hati Rasulullah ﷺ saat berinteraksi:

إِنْ كَانَتِ الأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ المَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

Sesungguhnya seorang budak wanita di antara budak-budak Kota Madinah sungguh mampu memegang tangan Rasulullah ﷺ lalu membimbing beliau pergi ke mana pun yang ia sukai (HR. Bukhari no. 6072).

Sebagai penutup, menumbuhkan rasa tawadhu’ merupakan perjuangan batin yang harus kita usahakan secara terus-menerus. Langkah nyata ini tentu wajib kita mulai dari melatih diri untuk mau mendengar nasehat baik dari siapa pun. Melalui kerendahan hati yang terjaga, kita berharap tatanan masyarakat Islami yang penuh kasih sayang dapat terwujud. Oleh sebab itu, mari kita buang jauh-jasa rasa sombong demi menggapai cinta dan keridhaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top