Hubungan intim antara suami dan istri merupakan bagian dari ibadah yang mulia di dalam Islam. Selain memberikan kebahagiaan fisik, aktivitas ini juga mengandung pahala yang besar jika kita melakukannya sesuai dengan tuntunan syariat. Agama Islam yang mulia telah mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk adab berinteraksi di atas ranjang. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari adab jima’ sesuai sunnah Nabi ﷺ agar hubungan suami istri senantiasa mendatangkan keberkahan dan keturunan yang sholih.
Niati Ibadah dan Membaca Doa Sebelum Jima’
Langkah awal yang sangat krusial dalam melakukan hubungan intim adalah meluruskan niat semata-mata untuk meraih rida Allah ﷻ. Suami dan istri hendaknya berniat untuk menjaga kesucian diri serta benteng dari perbuatan haram. Di samping itu, Islam mengajarkan kita untuk selalu membaca doa sebelum memulai hubungan agar terhindar dari gangguan setan.
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
Jika salah seorang dari kalian hendak mendatangi istrinya lalu ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithana wa jannibis-syaithana maa razaqtanaa” (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami), maka jika Allah menakdirkan lahirnya anak dari hubungan tersebut, setan tidak akan dapat memudaratkannya selama-lamanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dari itu, membiasakan doa ini menjadi perlindungan terbaik bagi calon keturunan kita kelak. Pengaruh doa tersebut akan membentengi anak dari keburukan dan godaan musuh utama manusia.
Menjaga Etika dan Larangan dalam Berhubungan
Islam memberikan kebebasan bagi pasangan suami istri dalam menikmati hubungan intim dengan berbagai gaya yang nyaman. Namun, Al-Qur’an dan Sunnah menetapkan batasan yang sangat jelas mengenai hal-hal yang terlarang. Suami dilarang keras mendatangi istri melalui dubur atau saat istri sedang dalam keadaan haid dan nifas.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an mengenai tempat datangnya hubungan suami istri:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ
Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu dari mana saja yang kamu sukai. (QS. Al-Baqarah: 223)
Selanjutnya, ayat ini mengisyaratkan bahwa hubungan intim hanya boleh dilakukan pada kemaluan tempat bercocok tanam keturunan. Menjauhi larangan ini merupakan bentuk ketakwaan yang akan menjaga kesucian serta kesehatan pasangan.
Menjaga Rahasia Ranjar dan Wudhu Sebelum Mengulangi
Adab penting berikutnya yang harus kita perhatikan adalah menjaga kerahasiaan hubungan suami istri dari orang lain. Seorang Muslim tidak boleh menceritakan detail hubungan intimnya kepada siapa pun karena hal tersebut merupakan perbuatan yang sangat tercela. Selain itu, jika suami istri ingin mengulangi hubungan atau ingin tidur sebelum mandi wajib, Rasulullah ﷺ menyarankan untuk berwudhu terlebih dahulu.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا
Jika salah seorang dari kalian telah mendatangi istrinya kemudian ingin mengulanginya kembali, maka hendaklah ia berwudhu di antara keduanya. (HR. Muslim)
Berikutnya, terapkanlah adab-adab mulia ini secara konsisten bersama pasangan di rumah. Kelembutan dan pemenuhan hak batin dengan cara yang benar akan mempererat ikatan cinta kasih antar sesama. Akhirnya, semoga Allah ﷻ memberkahi setiap hubungan keluarga kita dan menganugerahkan keturunan yang sholih. Amin.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


