Membangun Komunikasi Islami yang Santun
Komunikasi merupakan sarana utama untuk menghubungkan antar sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak orang yang sering mengabaikan etika saat berbicara maupun ketika mendengarkan ungkapan orang lain. Padahal, Islam telah mengajarkan panduan komunikasi yang sangat santun demi menjaga perasaan dan kehormatan lawan bicara. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari etika berbicara dan mendengar agar setiap interaksi sosial kita bernilai ibadah di hadapan Allah ﷻ.
Berbicara dengan Jelas dan Penuh Kejujuran
Langkah awal untuk membangun komunikasi yang efektif adalah menyampaikannya dengan kata-kata yang mudah difahami. Seorang muslim hendaknya tidak berbicara terlalu cepat atau menggunakan istilah-istilah sulit yang membuat bingung. Di samping itu, ucapan kita harus selalu berlandaskan pada kebenaran dan kejujuran yang nyata. Akibatnya, keterbukaan dalam berbicara akan melahirkan rasa percaya dan kedamaian di tengah masyarakat.
Aisyah رضي الله عنها menceritakan bagaimana cara Rasulullah ﷺ berbicara kepada para sahabatnya:
كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ يَسْمَعُهُ
Adalah ucapan Rasulullah ﷺ merupakan ucapan yang jelas, yang dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarkannya (HR. Abu Dawud no. 4839, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4839).
Menghindari Ucapan yang Kasar dan Sia-Sia
Selanjutnya, kita wajib memelihara lisan kita dari kata-kata kotor, cercaan, serta perdebatan yang tidak berguna. Ucapan yang kasar hanya akan memicu kebencian dan merusak hubungan persaudaraan yang telah terjalin. Sebaliknya, perkataan yang baik dan penuh kelembutan akan mampu melunakkan hati yang keras sekalipun. Oleh sebab itu, menyeleksi setiap kata sebelum mengucapkannya merupakan ciri kesempurnaan akhlak seorang muslim.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan peringatan:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang berbuat keji, dan bukan pula orang yang berkata kasar (HR. Tirmidzi no. 1977, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Al-Jami’ no. 5381).
Mendengarkan dengan Penuh Perhatian dan Tidak Memotong
Di samping etika berbicara, Islam juga sangat menekankan adab dalam mendengarkan percakapan orang lain. Ketika seseorang sedang berbicara, kita hendaknya menyimak pembicaraannya dengan tenang dan tidak langsung menyela atau memotong. Sikap menghargai pembicara ini menunjukkan kebesaran jiwa serta kerendahan hati kita dalam bersosialisasi. Melalui perhatian yang tulus saat menyimak, kita akan terhindar dari kesalahpahaman yang sering merugikan.
Jarir bin Abdullah رضي الله عنه menceritakan sikap Nabi ﷺ ketika meminta orang-orang untuk mendengarkan:
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ اسْتَنْصِتِ النَّاسَ
Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku pada saat Haji Wada’: Mintalah orang-orang untuk diam mendengarkan (HR. Bukhari no. 121 dan Muslim no. 65).
Memperhatikan Lawan Bicara dengan Wajah Berseri
Kemudian, etika komunikasi juga melibatkan bahasa tubuh yang sopan dan ramah saat berinteraksi. Kita hendaknya mengarahkan pandangan wajah kepada lawan bicara, bukan malah sibuk melihat hal lain yang membuat mereka merasa diabaikan. Senyuman yang tulus serta ekspresi yang hangat saat berbicara maupun mendengar akan mencairkan suasana. Oleh karena itu, paduan antara lisan yang santun dan sikap menyimak yang baik menjadi kunci keharmonisan bersama.
Abu Dzarr رضي الله عنه menceritakan nasehat indah dari Rasulullah ﷺ:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya berprasangka baik atau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (HR. Muslim no. 2626).
Sebagai kesimpulan, mengamalkan etika berbicara dan mendengar merupakan modal utama untuk menciptakan ketentraman di tengah masyarakat Islami. Langkah sederhana ini tentu harus kita latih secara konsisten dalam setiap percakapan harian. Melalui komunikasi yang santun dan penuh penghargaan, kita berharap persaudaraan antar muslim semakin kokoh dan erat. Oleh sebab itu, mari kita jaga tutur kata dan pendengaran kita demi menggapai ridha Allah ﷻ yang agung.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



