Melatih Diri Menjaga Lisan dan Emosi

Menjaga lisan dan emosi merupakan tantangan besar dalam kehidupan bersosialisasi. Sering kali, kata-kata yang terucap saat marah menimbulkan penyesalan yang mendalam bagi pelakunya. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian besar pada pengendalian diri sebagai tolak ukur kualitas iman seseorang. Dengan melatih lisan dan emosi, seorang muslim dapat menciptakan ketenangan bagi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.


Hubungan Erat antara Iman dan Lisan

Kesempurnaan iman seseorang tercermin secara jelas dari bagaimana ia menggunakan lisannya. Lisan yang terjaga mencerminkan hati yang bersih dan penuh ketakwaan kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, lisan yang tajam sering kali merusak pahala amal kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebagai peringatan, Allah ﷻ berfirman agar setiap hamba selalu berhati-hati dalam berucap:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 18)

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengaitkan keselamatan seseorang dengan kemampuannya mengendalikan lidah. Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kekuatan Sejati Adalah Menahan Amarah

Di sisi lain, banyak orang menyangka bahwa kekuatan hanya terletak pada kemampuan fisik untuk menundukkan lawan. Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan pandangan ini dengan menekankan pentingnya pengendalian emosi di saat sulit. Seseorang yang mampu menguasai dirinya saat amarah memuncak adalah pahlawan yang sebenarnya.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, mengelola emosi memerlukan latihan yang berkesinambungan agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan di masa depan.

Tips Praktis Mengendalikan Lisan dan Emosi

Selanjutnya, Islam menawarkan solusi praktis untuk meredam amarah dan menjaga lisan agar tetap santun. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita terapkan setiap hari:

  • Pertama, membaca ta’awudz untuk meminta perlindungan kepada Allah ﷻ dari godaan setan yang menyulut emosi.

  • Kedua, memilih untuk diam sejenak guna menghindari perdebatan saat hati sedang panas.

  • Ketiga, berwudhu dengan air yang dingin untuk meredam bara api amarah di dalam jiwa.

  • Keempat, mengingat besarnya pahala bagi orang yang mampu menahan amarah demi meraih ridha Allah ﷻ.

Terkait hal ini, seorang laki-laki pernah meminta wasiat yang singkat namun padat kepada Nabi ﷺ. Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه menceritakan kejadian tersebut:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَوْصِنِي. قَالَ لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ لاَ تَغْضَبْ

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: Janganlah engkau marah. Orang itu mengulang-ulang permintaannya, namun beliau tetap bersabda: Janganlah engkau marah. (HR. Bukhari)

Kesimpulan

Akhirnya, melatih lisan dan emosi adalah perjalanan panjang untuk menuju kedewasaan iman yang hakiki. Setiap kata yang baik dan setiap kemarahan yang tertahan akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memohon pertolongan Allah ﷻ agar kita diberikan hati yang lapang serta lisan yang selalu basah dengan zikir.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top