Imam Ibnu Majah رحمه الله

Penutup Rangkaian Imam Kutubus Sittah

Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah Al-Qazwini رحمه الله lahir di kota Qazwin, Irak, pada tahun 209 Hijriah. Beliau merupakan salah satu pilar besar dalam khazanah ilmu hadits yang melengkapi jajaran enam imam hadits paling terkemuka. Umat Islam mengenal beliau melalui kitab Sunan Ibnu Majah yang memiliki keunikan tersendiri dalam sistematika penulisan dan penyajian hadits. Beliau sukses mengabdikan seluruh hidupnya untuk melakukan perjalanan ilmiah demi menghimpun sabda-sabda suci Rasulullah ﷺ agar tetap terjaga keasliannya.

Pengembaraan Ilmiah dan Semangat Menuntut Ilmu

Awalnya, Imam Ibnu Majah رحمه الله memulai rihlah ilmiahnya sejak usia belia dengan mengunjungi pusat-pusat peradaban Islam yang kaya akan ilmu pengetahuan. Beliau melakukan perjalanan jauh ke wilayah Irak, Bashrah, Kufah, Syam, Mesir, hingga Hijaz guna berguru kepada para ulama terkemuka. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketekunan beliau dalam belajar sukses membuahkan hafalan yang sangat kuat serta pemahaman yang mendalam mengenai kualitas perawi hadits. Beliau tidak hanya sekadar mengumpulkan teks hadits, namun juga sangat teliti dalam menyusun bab-bab fikih yang sangat memudahkan para pembaca. Maka, pengakuan dari para ulama sezamannya menjadikan beliau sebagai sosok rujukan utama dalam memahami problematika hukum syariat melalui dalil-dalil hadits. Beliau memahami bahwa kejujuran dalam menyampaikan warisan kenabian merupakan amanah ilmiah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah ﷻ.

Karakteristik Sunan Ibnu Majah dan Kejujuran Ilmiah

Selain ahli hadits, Imam Ibnu Majah رحمه الله sangat terkenal karena beliau mampu menyajikan hadits-hadits yang tidak ditemukan dalam kitab hadits utama lainnya. Beliau memegang teguh prinsip kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya agar senantiasa bersikap jujur. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, setiap bab dalam Sunan Ibnu Majah disusun dengan sangat rapi guna memberikan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai integritas dengan cara menyebutkan silsilah perawi secara lengkap agar keaslian sebuah riwayat dapat orang telusuri dengan mudah. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati meskipun beliau memiliki pengaruh yang sangat luas di kalangan para penuntut ilmu. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya tetap istiqamah dalam berdakwah meskipun beliau harus menghadapi berbagai tantangan selama pengembaraan ilmunya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemampuannya untuk mengabdikan seluruh potensinya demi kemaslahatan umat Islam secara luas.

Keshalehan Pribadi dan Akhir Hayat Sang Imam

Kemudian, sisi spiritual Imam Ibnu Majah رحمه الله terpancar melalui ketulusan niatnya dalam menuliskan setiap baris kalimat di dalam kitabnya. Beliau meyakini bahwa kedalaman ilmu syariat haruslah membuahkan rasa takut yang sangat besar kepada Allah ﷻ dalam setiap keadaan. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya di dalam Al-Quran:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama setelahnya untuk tetap konsisten dalam menjaga kemurnian akidah dan Sunnah. Beliau sukses menempatkan diri sebagai pembela ajaran Islam yang sangat gigih melalui karya tulisnya yang sangat sistematis dan mudah umat pahami. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam melayani pertanyaan para muridnya yang datang dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Islam. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah intelektual Muslim dengan dokumentasi hadits yang sangat berharga bagi peradaban manusia.

Pada akhirnya, Imam Ibnu Majah رحمه الله wafat di kota kelahirannya, Qazwin, pada tahun 273 Hijriah dalam usia enam puluh empat tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu lentera penjaga Sunnah Nabi ﷺ. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab Sunan Ibnu Majah tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran sejati hingga hari kiamat. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa dedikasi yang tulus terhadap ilmu akan membuahkan keberkahan yang tak pernah putus.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top