Sang Penjaga Hadits yang Teliti
Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamduyah An-Naisaburi رحمه الله lahir di kota Naisabur pada tahun 321 Hijriah. Beliau tumbuh menjadi raksasa ilmu hadits yang memiliki kontribusi sangat besar bagi pelestarian Sunnah Rasulullah ﷺ di dunia Islam. Masyarakat mengenal beliau melalui gelar Al-Hakim, sebuah julukan yang hanya disematkan kepada para ulama yang telah menguasai ratusan ribu hadits secara mendalam. Beliau sukses mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyaring riwayat-riwayat penting yang belum sempat dibukukan dalam kitab-kitab utama sebelumnya.
Perjalanan Ilmiah dan Pengabdian pada Ilmu Hadits
Awalnya, Imam Al-Hakim An-Naisaburi رحمه الله memulai rihlah ilmiahnya sejak usia belia dengan mendatangi para ulama di wilayah Khurasan. Beliau kemudian melakukan pengembaraan panjang menuju pusat-pusat ilmu seperti Irak, Hijaz, hingga wilayah Transoxiana guna menghimpun sanad-sanad yang murni. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang beriman serta memiliki ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu sukses membuahkan pemahaman yang sangat mendalam mengenai kriteria keshahihan hadits yang sangat ketat. Beliau tidak hanya sekadar mengumpulkan teks riwayat, namun juga sangat ahli dalam membedah biografi para perawi serta menilai keadilan mereka. Maka, pengakuan dari para ulama sezamannya menjadikan beliau sebagai rujukan tertinggi dalam menentukan keshahihan sebuah hadits pada masanya. Beliau memahami bahwa menjaga kemurnian sabda Rasulullah ﷺ merupakan amanah ilmiah yang sangat luhur dan harus tetap manusia jaga kesuciannya.
Karya Monumental Al-Mustadrak dan Kejujuran Ilmiah
Selain ahli hadits, Imam Al-Hakim An-Naisaburi رحمه الله sangat terkenal melalui karya monumentalnya, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain. Beliau menyusun kitab tersebut untuk menghimpun hadits-hadits shahih yang sesuai dengan syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim namun tidak dicantumkan dalam kitab mereka. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya agar selalu bersikap jujur. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap analisis beliau dalam menentukan keshahihan hadits selalu mendapatkan perhatian serius dari para ulama generasi setelahnya. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai integritas dengan cara menyebutkan dasar penilaian secara transparan bagi setiap riwayat yang ia sertakan. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati serta memiliki sifat wara’ yang sangat kuat dalam menjaga kehormatan ilmunya. Sifat tawadhu beliau menjadikannya tetap dihormati meskipun ia memiliki kedudukan sosial yang tinggi sebagai seorang hakim agung di kotanya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemampuannya untuk melindungi agama dari setiap bentuk keraguan.
Keshalehan Pribadi dan Wafatnya Sang Imam
Kemudian, sisi spiritual Imam Al-Hakim An-Naisaburi رحمه الله terpancar melalui ketekunannya dalam mengamalkan ilmu serta kedekatannya kepada Allah ﷻ. Beliau meyakini bahwa kedalaman ilmu syariat haruslah membuahkan rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta dalam setiap tarikan napasnya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama hebat yang terus menjaga kemurnian akidah dan Sunnah Nabi ﷺ secara konsisten. Beliau sukses menempatkan diri sebagai salah satu pilar intelektual Islam melalui karya-karya tulisnya yang sangat sistematis dan tepercaya bagi peradaban. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam melayani para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru negeri. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah literatur Islam dengan dokumentasi hadits yang sangat lengkap dan akurat bagi umat.
Pada akhirnya, Imam Al-Hakim An-Naisaburi رحمه الله wafat di kota Naisabur pada tahun 405 Hijriah dalam usia delapan puluh empat tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu penjaga Sunnah yang paling bersinar. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab Al-Mustadrak miliknya tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran sejati di seluruh dunia. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa dedikasi tulus terhadap ilmu akan membuahkan keberkahan yang tak pernah putus bagi peradaban manusia.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



