Ibrahim An-Nakha‘i رحمه الله

Sang Fakih dari Kufah yang Wara’

Ibrahim bin Yazid bin Al-Aswad Al-Nakha’i adalah salah satu tokoh ulama besar dari generasi Tabi’in yang memiliki pengaruh luar biasa dalam sejarah fikih Islam. Beliau dikenal sebagai pilar ilmu di Kufah dan merupakan guru utama dari Imam Hammad bin Abi Sulaiman, yang kemudian menjadi guru dari Imam Abu Hanifah.

Nasab dan Masa Kecilnya

Beliau lahir di Yaman pada tahun 46 Hijriah dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kental dengan nuansa ilmu dan kesalehan. Ibrahim An-Nakha‘i berasal dari kabilah Nakha’, sebuah kabilah yang banyak melahirkan pejuang dan ulama. Ibunya, Mulaikah binti Yazid, adalah saudari dari Al-Qamah bin Qais, seorang ulama besar murid kesayangan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه.

Pendidikan masa kecilnya sangat dipengaruhi oleh pamannya, Al-Qamah. Dari sinilah Ibrahim menyerap metodologi fikih Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه yang dikenal sangat teliti dan mendalam dalam memahami nash-nash agama.

Kedalaman Ilmu dan Keteguhan dalam Sunnah

Ibrahim An-Nakha‘i رحمه الله bukan sekadar penghafal hadits, melainkan seorang mujtahid yang mampu melakukan korelasi antar dalil. Beliau sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu dan sangat membenci bid’ah serta perkara baru dalam agama.

Beliau menekankan pentingnya mengikuti jejak para sahabat Nabi ﷺ. Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah (QS. At-Taurah: 100).

Dalam berinteraksi dengan hadits Nabi ﷺ, beliau sangat memegang teguh kejujuran. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Sifat Wara’ dan Ketawadhuannya

Meskipun memiliki kedudukan ilmu yang tinggi, Ibrahim An-Nakha‘i رحمه الله adalah sosok yang sangat menjauhi ketenaran. Beliau sering kali menyembunyikan ibadahnya dan merasa berat jika orang-orang berkumpul di sekelilingnya untuk bertanya.

Ketakutannya kepada Allah ﷻ tercermin dalam ucapannya yang masyhur: “Aku berbicara, padahal jika aku menemukan jalan untuk tidak berbicara, aku tidak akan berbicara. Sesungguhnya zaman di mana aku menjadi fakihnya penduduk Kufah adalah zaman yang buruk.”

Kehati-hatian beliau dalam beragama juga mencakup bagaimana beliau menjaga lisan dan sikap dari godaan duniawi, demi menjaga kemurnian amalannya di hadapan Allah ﷻ.

Wafatnya Ibrahim An-Nakha‘i

Beliau wafat pada tahun 96 Hijriah dalam usia yang relatif muda, sekitar 50 tahun. Kematiannya menjadi duka mendalam bagi penduduk Kufah dan seluruh umat Islam saat itu. Asy-Sya’bi, seorang ulama besar lainnya, berkata ketika mendengar kabar wafatnya Ibrahim: “Kalian telah menguburkan orang yang paling fakih di antara manusia.”

Warisan terbesarnya bukanlah tumpukan harta, melainkan murid-murid hebat dan metodologi fikih yang kemudian menjadi pondasi bagi berkembangnya madrasah fikih di Irak.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top