Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam sejarah Islam. Kejadian luar biasa ini terjadi pada masa ketika Rasulullah ﷺ sedang mengalami kesedihan mendalam setelah wafatnya istri tercinta, Khadijah رضي الله عنها, dan paman beliau, Abu Thalib. Oleh karena itu, Allah ﷻ memperjalankan hamba-Nya untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya sekaligus memberikan penguatan batin. Melalui peristiwa ini, kita dapat mengambil banyak pelajaran penting mengenai iman, ketaatan, dan kedudukan shalat.
Perjalanan Suci Menembus Langit
Peristiwa ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu Isra’ yang merupakan perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, serta Mi’raj yang merupakan perjalanan vertikal ke langit ketujuh. Allah ﷻ mengabadikan momen mulia ini secara langsung di dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia.
Allah ﷻ berfirman mengenai perjalanan malam tersebut:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra’: 1)
Selanjutnya, perjalanan ini membuktikan bahwa kekuasaan Allah ﷻ melampaui segala batasan logika dan hukum alam yang diketahui oleh manusia.
Shalat sebagai Oleh-oleh Teragung
Hikmah yang paling fundamental dari peristiwa Mi’raj adalah turunnya perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah ﷻ. Berbeda dengan ibadah lainnya yang turun melalui perantara Malaikat Jibril, shalat memiliki keistimewaan karena Rasulullah ﷺ menerimanya langsung di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah inti dari penghambaan seorang muslim kepada Rabbnya.
Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan mengenai proses turunnya perintah shalat ini:
فَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلاَةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى أَمُرَّ بِمُوسَى، فَقَالَ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِي؟ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ
Allah mewajibkan kepada umatku lima puluh shalat. Aku kembali dengan membawa perintah itu hingga aku melewati Musa. Musa bertanya: Apa yang Allah wajibkan bagi umatmu? Aku menjawab: Allah mewajibkan lima puluh shalat. Musa berkata: Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup melakukannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian, setelah Nabi ﷺ berulang kali memohon keringanan, Allah ﷻ menetapkan shalat menjadi lima waktu namun dengan pahala yang setara dengan lima puluh shalat.
Ujian Keimanan bagi Orang Bertauhid
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi ﷺ, Isra’ Mi’raj juga berfungsi sebagai ujian keimanan bagi para pengikut beliau. Pada saat itu, banyak orang yang meragukan kejadian tersebut karena dianggap tidak masuk akal secara fisik. Namun, bagi orang yang memiliki iman yang kokoh seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, peristiwa ini justru semakin menambah keyakinannya.
Lebih lanjut, pelajaran penting lainnya adalah tentang urgensi menjaga kesucian Masjidil Aqsa sebagai tempat berkumpulnya para Nabi. Rasulullah ﷺ menjadi imam bagi para Nabi terdahulu di masjid tersebut, yang menandakan bahwa Islam adalah penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. Maka dari itu, umat Islam memiliki ikatan batin dan sejarah yang sangat kuat dengan tanah suci Palestina.
Kesimpulan
Akhirnya, Isra’ Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan yang datang dari Allah ﷻ. Shalat yang kita dirikan setiap hari adalah sarana “mi’raj” bagi jiwa mukmin untuk berkomunikasi langsung dengan Penciptanya. Semoga kita senantiasa menjaga shalat lima waktu sebagai bentuk syukur atas nikmat terbesar yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dari perjalanan langit tersebut.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

