Profil Singkat Sahabiyah Mulia
Fatimah binti Qais رضي الله عنها adalah salah seorang sahabiyah Rasulullah ﷺ yang dikenal dengan kecerdasan, ketelitian dalam meriwayatkan hadits, serta keteguhan dalam memegang syariat. Ia termasuk wanita Quraisy dari Bani Fihri, hidup pada masa Nabi ﷺ dan berinteraksi langsung dengan beliau dalam berbagai persoalan hukum Islam, khususnya yang berkaitan dengan masalah keluarga dan perempuan.
Kedudukannya di Kalangan Sahabat
Fatimah binti Qais رضي الله عنها dikenal sebagai sahabiyah yang jujur dan kuat hafalannya. Beberapa sahabat besar menerima riwayat darinya, dan hadits-haditsnya menjadi rujukan penting dalam bab fikih, terutama tentang iddah dan nafkah bagi perempuan yang ditalak.
Peristiwa Talak dan Pelajaran Fikih
Salah satu peristiwa paling masyhur dalam kehidupan Fatimah binti Qais رضي الله عنها adalah ketika ia ditalak ba’in (talak tiga) oleh suaminya. Dari peristiwa inilah lahir hadits penting yang menjadi dasar pembahasan ulama dalam hukum iddah dan nafkah.
Ia sendiri menuturkan:
فَاطِمَةُ بِنْتُ قَيْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: طَلَّقَنِي زَوْجِي ثَلَاثًا، فَلَمْ يَجْعَلْ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سُكْنَى وَلَا نَفَقَةً
Fatimah binti Qais رضي الله عنها berkata: “Suamiku telah menalakku dengan talak tiga, maka Rasulullah ﷺ tidak menetapkan bagiku tempat tinggal dan tidak pula nafkah.”
(HR. Muslim)
Hadits ini diriwayatkan secara shahih dan menjadi dalil utama bahwa perempuan yang ditalak ba’in tidak berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal, kecuali dalam kondisi hamil.
Ketaatan dan Keteladanan
Meski menghadapi ujian rumah tangga, Fatimah binti Qais رضي الله عنها tetap menunjukkan ketaatan sempurna kepada Rasulullah ﷺ. Ketika beliau ﷺ memerintahkannya untuk menjalani masa iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum رضي الله عنه, ia melaksanakannya dengan penuh keimanan tanpa membantah atau ragu.
Sikap ini menunjukkan keteladanan luar biasa dalam menerima hukum Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ, meskipun terkadang berat bagi perasaan manusia.
Peran dalam Penyampaian Ilmu
Fatimah binti Qais رضي الله عنها tidak menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri. Ia meriwayatkan hadits dengan amanah, sehingga menjadi sumber ilmu bagi generasi setelahnya. Para ulama fikih banyak membahas riwayatnya dan menjadikannya sebagai dasar istinbath hukum.
Wafatnya
Fatimah binti Qais رضي الله عنها wafat pada masa setelah Rasulullah ﷺ, dalam keadaan membawa warisan ilmu dan keteladanan. Namanya tetap hidup dalam kitab-kitab hadits dan fikih hingga hari ini.
Penutup
Kisah Fatimah binti Qais رضي الله عنها mengajarkan kepada kita tentang kejujuran dalam menyampaikan ilmu, keteguhan dalam menjalani takdir, serta kepatuhan total terhadap syariat Islam. Ia adalah contoh nyata bahwa perempuan memiliki peran besar dalam menjaga dan menyebarkan ajaran Islam dengan ilmu dan iman.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



