Fiqih Nisa: Haid, Nifas, dan Ibadah di Rumah

Fiqih Nisa: Haid, Nifas, dan Ibadah di Rumah

Haid dan nifas adalah bagian dari kehidupan setiap muslimah. Namun, banyak yang bertanya tentang apa saja larangannya. Selain itu, mereka ingin tahu ibadah apa yang tetap bisa mereka lakukan di rumah. Karena itu, artikel ini menjawabnya dengan dalil yang shahih dan bahasa yang sederhana.

Haid adalah Ketetapan Allah ﷻ

Haid bukan aib dan bukan hukuman. Sebaliknya, Allah ﷻ menjadikannya fitrah bagi kaum wanita. Oleh karena itu, seorang muslimah tidak perlu bersedih ketika mengalaminya. Bahkan, Nabi ﷺ sendiri menenangkan Aisyah رضي الله عنها saat ia menangis.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ: مَا لَكِ أَنَفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ menemuiku saat aku menangis, lalu beliau bertanya, “Ada apa denganmu, apakah engkau haid?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya ini adalah perkara yang Allah tetapkan atas putri-putri Adam.” (HR. Bukhari no. 294)

Apa Itu Haid dan Nifas?

Pengertian Haid

Haid adalah darah alami yang keluar dari rahim wanita pada waktu-waktu khusus. Dengan kata lain, darah ini keluar bukan karena sakit atau luka. Biasanya, haid datang secara berkala setiap bulan.

Pengertian Nifas

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Pada kebanyakan wanita, masa nifas berlangsung hingga sekitar empat puluh hari.

Hukum Hubungan Suami Istri Saat Haid

Allah ﷻ berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah kotoran.” Maka jauhilah para istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai perintah Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Jadi, hubungan suami istri haram selama haid dan nifas. Meski begitu, kebersamaan lainnya tetap boleh. Misalnya, suami boleh makan bersama istri, bercengkerama, dan tinggal serumah seperti biasa.

Ibadah yang Wanita Haid dan Nifas Tinggalkan

Pada masa ini, ada beberapa ibadah yang harus muslimah tinggalkan. Pertama, shalat, baik wajib maupun sunnah. Kedua, puasa, baik wajib maupun sunnah. Ketiga, thawaf di Ka’bah. Keempat, berdiam diri di dalam masjid.

Lalu, bagaimana dengan shalat dan puasa yang luput? Aisyah رضي الله عنها menjelaskan hukumnya dengan sangat jelas.

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رضي الله عنها فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

Dari Mu’adzah, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها, “Mengapa wanita haid mengqadha puasa tetapi tidak mengqadha shalat?” Ia balik bertanya, “Apakah engkau seorang Haruriyyah?” Aku menjawab, “Bukan, aku hanya bertanya.” Kemudian Aisyah رضي الله عنها berkata, “Dahulu hal itu menimpa kami. Saat itu kami mendapat perintah mengqadha puasa, tetapi tidak mendapat perintah mengqadha shalat.” (HR. Muslim no. 335)

Dengan demikian, puasa Ramadhan yang luput wajib muslimah qadha. Sebaliknya, shalat yang luput tidak perlu ia qadha. Karena itu, hukum ini menjadi keringanan dan rahmat dari Allah ﷻ.

Amalan yang Tetap Boleh Muslimah Lakukan di Rumah

Haid tidak menutup ladang pahala. Sebaliknya, banyak amalan yang tetap membuka pintu kebaikan. Berikut beberapa di antaranya.

Dzikir dan Doa

Muslimah yang haid tetap boleh berdzikir, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan bershalawat. Selain itu, ia bisa membaca doa pagi dan petang. Memang amalan ini ringan, tetapi pahalanya besar.

Membaca dan Mendengar Al-Qur’an

Para ulama berbeda pendapat tentang membaca Al-Qur’an saat haid. Sebagian membolehkannya, khususnya ketika ada kebutuhan, misalnya mengajar atau menjaga hafalan. Adapun mendengarkan murattal dan kajian, hukumnya boleh. Bahkan, Nabi ﷺ pernah membaca Al-Qur’an sambil bersandar di pangkuan istrinya yang sedang haid.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ

Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Nabi ﷺ pernah bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid, lalu beliau membaca Al-Qur’an. (HR. Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301)

Amalan Lain yang Bernilai Pahala

Masih banyak amal lain yang bisa muslimah lakukan di rumah. Misalnya, ia bisa bersedekah dan membantu sesama. Kemudian, ia bisa berbakti kepada orang tua dan suami. Di samping itu, ia bisa menghadiri kajian dan membaca buku agama. Yang tak kalah penting, ia bisa mendidik anak dengan akhlak yang baik.

Kapan Haid Berakhir?

Haid berakhir ketika darah berhenti dan tanda suci muncul. Pada zaman sahabat, para wanita biasa mengirim kapas kepada Aisyah رضي الله عنها untuk beliau periksa. Menanggapi hal itu, beliau memberi jawaban yang sangat bijak.

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ رضي الله عنها بِالدُّرَجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ، فَتَقُولُ: لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ

Para wanita pernah mengirim kepada Aisyah رضي الله عنها bejana kecil berisi kapas yang ada bercak kekuningan. Lalu beliau berkata, “Jangan cepat-cepat, tunggulah sampai kalian melihat cairan putih bersih.” (Al-Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq dalam Bab Iqbalil Mahidh wa Idbarihi)

Setelah suci, muslimah wajib mandi. Selanjutnya, ia kembali shalat dan berpuasa seperti biasa.

Masa Nifas dan Batasnya

Wanita nifas mengikuti hukum haid dalam hal larangan ibadah. Adapun batas maksimalnya, para sahabiyah menjalaninya selama empat puluh hari.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Dari Ummu Salamah رضي الله عنها, ia berkata: Pada masa Rasulullah ﷺ, wanita nifas menunggu selama empat puluh hari. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi; Syaikh Al-Albani menilainya hasan shahih)

Jika darah berhenti sebelum empat puluh hari, ia boleh langsung mandi, lalu shalat dan berpuasa. Sebab, nifas tidak memiliki batas minimal.

Bagaimana dengan Darah Istihadhah?

Sebagian wanita mengalami darah yang keluar tanpa henti di luar kebiasaan haid. Para ulama menyebut kondisi ini istihadhah, dan hukumnya berbeda dari haid. Dalam hal ini, Fatimah binti Abi Hubaisy رضي الله عنها pernah bertanya kepada Nabi ﷺ.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْشٍ: إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

Dari Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Apabila haid datang, tinggalkanlah shalat. Apabila haid telah berlalu, bersihkanlah darah darimu, lalu shalatlah.” (HR. Bukhari no. 306 dan Muslim no. 333)

Jadi, wanita istihadhah tetap shalat dan berpuasa. Meskipun begitu, jika ragu menentukan hukumnya, bertanyalah kepada ulama atau ustadzah yang amanah.

Penutup

Haid dan nifas adalah ketetapan Allah ﷻ yang sarat hikmah. Selain itu, Islam tidak membebani muslimah di luar kemampuannya. Bahkan, Islam membuka banyak jalan kebaikan selama masa itu. Oleh sebab itu, isilah hari-hari ini dengan dzikir, doa, ilmu, dan amal shalih. Akhirnya, semoga Allah ﷻ menerima seluruh amal kita.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top