Al-Asbagh bin Nubatah رحمه الله

Ksatria Setia dari Kabilah Hanzhalah

Al-Asbagh bin Nubatah Al-Mujasyi’i Ar-Riyahi merupakan salah satu tokoh dari generasi Tabi’in yang sangat menonjol dalam sejarah politik dan militer awal Islam. Beliau berasal dari kabilah Bani Hanzhalah yang terkenal sebagai pemberani. Selain karena ketangguhannya di medan perang, sejarah juga mengenalnya sebagai pengikut setia sekaligus komandan pasukan elit di bawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Kesetiaan di Bawah Panji Kekhalifahan

Awalnya, Al-Asbagh bin Nubatah رحمه الله muncul sebagai sosok yang sangat loyal terhadap otoritas kekhalifahan yang sah. Beliau memegang peranan penting sebagai pemimpin pasukan Syurthah al-Khamis, yaitu pasukan elit yang selalu siap sedia membela kebenaran. Kesetiaan beliau ini berlandaskan pada perintah Allah ﷻ untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (QS. At-Taubah: 119).

Selanjutnya, beliau mendampingi Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dalam berbagai peristiwa besar yang melanda umat Islam. Beliau memahami bahwa menjaga persatuan di bawah pemimpin yang adil merupakan kewajiban agama. Oleh karena itu, beliau tidak pernah ragu dalam menjalankan setiap instruksi yang bertujuan untuk kemaslahatan umat.

Keteguhan dalam Memegang Prinsip

Kemudian, Al-Asbagh juga terkenal karena kecakapannya dalam berdiplomasi serta menjaga rahasia negara. Beliau seringkali mendapatkan kepercayaan untuk menyampaikan pesan-pesan penting karena integritasnya yang sangat tinggi. Kepercayaan ini selaras dengan tuntunan Nabi ﷺ agar seorang mukmin senantiasa menjaga amanah. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu, Al-Asbagh bin Nubatah رحمه الله selalu berusaha menjauhi sifat-sifat tersebut dengan penuh kehati-hatian. Beliau meyakini bahwa kejujuran lisan mencerminkan kemurnian hati seseorang. Selain itu, beliau senantiasa mengingatkan rekan-rekannya agar tidak tergiur oleh fitnah duniawi yang dapat merusak tatanan sosial.

Kedekatan dengan Ilmu dan Ulama

Selanjutnya, meskipun beliau lebih banyak bergerak di bidang militer, Al-Asbagh tetap memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama. Beliau banyak menyerap hikmah dan nasihat langsung dari para sahabat besar yang beliau temui di Kufah. Beliau memahami bahwa keberanian tanpa dasar ilmu dapat menjerumuskan seseorang pada kesalahan fatal. Allah ﷻ berfirman mengenai kemuliaan ilmu:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Oleh karena itu, beliau senantiasa menghormati para ahli ilmu serta mengikuti bimbingan mereka dalam beragama. Beliau menyadari bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing setiap langkah ksatria di medan kehidupan. Kemudian, beliau juga menjadi saksi sejarah atas berbagai peristiwa penting yang membentuk arah peradaban Islam di masa depan.

Akhir Hayat Sang Ksatria

Pada akhirnya, Al-Asbagh bin Nubatah رحمه الله menghabiskan sisa usianya di Kufah setelah masa pergolakan politik mulai mereda. Beliau wafat dengan meninggalkan reputasi sebagai ksatria yang teguh pada pendirian serta setia kepada prinsip-prinsip kebenaran. Meskipun jasadnya telah tiada, namun namanya tetap tercatat dalam sejarah sebagai simbol loyalitas yang tulus.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kekuatan fisik haruslah beriringan dengan keteguhan iman. Selain itu, beliau membuktikan bahwa menjadi pengikut yang setia memerlukan pengorbanan serta kesabaran yang luar biasa. Walaupun zaman terus berubah, namun nilai-nilai kejujuran yang beliau pegang teguh tetap relevan bagi setiap Muslim hingga hari ini.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top