‘Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما

Sang Lautan Kedermawanan

‘Abdullah bin Ja‘far bin Abi Thalib رضي الله عنهما menempati kedudukan istimewa sebagai anak pertama yang lahir di tanah hijrah, yakni Habasyah. Beliau merupakan putra dari sahabat mulia Ja‘far bin Abi Thalib yang syahid di Perang Mu’tah. Karena garis keturunannya, beliau juga merupakan keponakan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sekaligus kerabat dekat Rasulullah ﷺ.

Doa Keberkahan dari Rasulullah ﷺ

Awalnya, kesedihan menyelimuti keluarga ‘Abdullah saat ayahnya gugur di medan perang. Namun, Rasulullah ﷺ datang menghibur mereka serta mendoakan keberkahan bagi ‘Abdullah yang saat itu masih kecil. Nabi ﷺ memegang kepala ‘Abdullah serta memohon kepada Allah ﷻ agar memberkahi setiap urusannya. Allah ﷻ berfirman mengenai kasih sayang kepada sesama mukmin:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka (QS. Al-Fath: 29).

Selanjutnya, keberkahan doa Nabi ﷺ tersebut terlihat nyata dalam kehidupan ‘Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما. Beliau tumbuh menjadi pengusaha sukses yang sangat kaya, tetapi beliau menggunakan hartanya sepenuhnya untuk kepentingan umat Islam.

Kedermawanan yang Tiada Tanding

Selain memiliki kekayaan melimpah, ‘Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما sangat terkenal dengan julukan “Bahrul Juud” atau lautan kedermawanan. Beliau tidak pernah menolak permintaan orang yang membutuhkan bantuan meskipun beliau sendiri dalam keadaan terbatas. Oleh karena itu, para ulama menyebutnya sebagai orang yang paling dermawan di antara bangsa Arab pada masanya.

Beliau meyakini bahwa memberi tidak akan mengurangi harta, melainkan justru menambah keberkahan. Hal ini sejalan dengan hadits yang Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, ‘Abdullah selalu mendahulukan kebutuhan fakir miskin daripada kemewahan pribadinya. Kelembutan hatinya menjadi bukti nyata betapa dalamnya pengaruh didikan Rasulullah ﷺ dalam jiwanya.

Kedudukan dalam Ilmu dan Hadits

Kemudian, ‘Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما juga menyandang status sebagai perawi hadits yang terpercaya. Beliau meriwayatkan beberapa petunjuk penting dari Rasulullah ﷺ yang berkaitan dengan adab serta ibadah. Salah satu hadits yang beliau sampaikan adalah mengenai doa saat menghadapi kesulitan yang berat.

Beliau memahami bahwa setiap mukmin harus senantiasa kembali kepada Allah ﷻ dalam setiap kondisi. Allah ﷻ memberikan petunjuk bagi manusia melalui firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (QS. Al-Baqarah: 186).

Selain itu, ‘Abdullah seringkali memberikan nasihat kepada para penguasa agar tetap berlaku adil serta menyayangi rakyat kecil. Pengalaman hidupnya bersama para sahabat besar menjadikannya rujukan bagi generasi Tabi’in.

Wafatnya Sang Penolong Fakir Miskin

Pada akhirnya, ‘Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما menghembuskan napas terakhirnya di Madinah pada tahun 80 Hijriah. Kematiannya menyisakan duka mendalam bagi ribuan orang yang selama ini bergantung pada kebaikannya. Meskipun raganya telah terkubur di Baqi’, namun nama harumnya tetap abadi sebagai simbol kedermawanan yang tulus.

Seluruh umat Islam dapat mengambil pelajaran dari ketulusan beliau dalam berbagi harta. Beliau membuktikan bahwa kekayaan adalah sarana terbaik untuk meraih surga jika pemiliknya menggunakannya di jalan Allah ﷻ. Selain itu, kehidupan beliau menunjukkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada seberapa besar manfaat seseorang bagi orang lain.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top