Banyak orang menganggap jabatan politik sebagai sebuah anugerah besar yang patut disyukuri secara berlebihan. Sejatinya, kekuasaan merupakan beban berat serta amanah yang menuntut pertanggungjawaban mutlak di akhirat. Oleh karena itu, para pejabat pemerintah seharusnya merasa gentar ketika mereka menerima posisi kepemimpinan, alih-alih merayakannya dengan rasa bangga.
Pandangan Islam Terhadap Jabatan Publik
Islam memandang posisi kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral yang sangat besar di sisi Allah ﷻ. Ketika seseorang bernafsu mengejar jabatan, ia justru kehilangan bimbingan spiritual dari Sang Pencipta. Dari Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه, Nabi ﷺ memberikan peringatan keras melalui sabda beliau:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan kepemimpinan. Sesungguhnya jika kamu diberi jabatan karena meminta, maka kamu akan dibebani dengan tanggung jawab jabatan itu. Namun jika kamu diberi jabatan bukan karena meminta, maka kamu akan ditolong (oleh Allah) dalam menjalankan jabatan itu (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan sabda beliau ini, kita memahami bahwa kekuasaan bukanlah hadiah yang menyenangkan. Di samping itu, ambisi mengejar kedudukan sering kali menjerumuskan seseorang ke dalam lembah kehinaan.
Kekeliruan Memaknai Syukur Jabatan
Sementara itu, sebagian pejabat sering kali salah kaprah dalam mengekspresikan rasa syukur atas kedudukan baru mereka. Mereka mengadakan perayaan meriah atau bersikap sombong seolah-olah jabatan tersebut adalah prestasi pribadi. Padahal, wujud syukur yang benar bagi seorang penguasa adalah menegakkan keadilan serta melayani rakyat. Allah ﷻ mengingatkan manusia tentang hakikat ujian kekuasaan di dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ للجَفُورُ الْعَحِيمُ
Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-An’am: 165).
Kemudian, ayat di atas menegaskan bahwa kenaikan derajat kekuasaan bertujuan semata-mata untuk menguji kualitas iman manusia. Maka dari itu, penguasa yang zalim pasti akan menghadapi azab yang sangat pedih dari Allah ﷻ.
Tanggung Jawab Pemimpin di Hadapan Allah ﷻ
Selanjutnya, setiap pemimpin memikul kewajiban berat untuk memastikan seluruh rakyatnya mendapatkan hak-hak dasar mereka secara adil. Kelalaian dalam mengurus umat akan mendatangkan kutukan serta kerugian besar di hari kiamat. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ berdoa memohon kebinasaan bagi pemimpin yang menyusahkan rakyat:
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِمْ
Ya Allah, siapa saja yang memegang urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia. Dan siapa saja yang memegang urusan umatku lalu ia berbuat lembut kepada mereka, maka berbuat lembutlah kepada padanya (HR. Muslim).
Dari doa nabi tersebut, kita menyadari bahwa kekuasaan yang tidak diiringi sifat belas kasih akan menghancurkan pelakunya sendiri. Akhirnya, integritas serta rasa takut kepada Allah ﷻ menjadi pelindung terbaik bagi seorang pejabat negara. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa mengingatkan para penguasa agar menjalankan amanah dengan penuh keadilan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, kekuasaan adalah amanah berat yang menuntut keadilan, bukan anugerah untuk dibanggakan secara berlebihan. Melalui kesadaran ini, para pejabat dapat memimpin bangsa dengan landasan takwa dan keridaan Ilahi. Semoga Allah ﷻ membimbing para pemimpin kita agar senantiasa amanah dalam menjalankan tugasnya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|
