Sang Mufassir Agung dan Sejarawan Ulung
Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi رحمه الله lahir di Busra, Suriah, pada tahun 701 Hijriah. Tokoh besar ini tumbuh menjadi salah satu ulama paling cemerlang dan berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam. Dunia mengenal beliau sebagai mufassir agung, ahli hadits yang teliti, serta sejarawan ulung yang karya-karyanya menjadi rujukan utama umat Islam hingga hari ini. Beliau sukses menempatkan dirinya sebagai penyambung estafet keilmuan para ulama besar dengan menyusun kitab-kitab yang sangat jernih, sistematis, dan mudah dipahami.
Pengembaraan Ilmu dan Ketekunan di Damaskus
Awalnya, Imam Ibnu Katsir رحمه الله pindah ke Damaskus pada usia muda setelah ayahnya wafat guna menimba ilmu syariat. Beliau mempelajari Al-Quran, hadits, fikih madzhab Syafi’i, serta sejarah dari para ulama terkemuka pada zamannya. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan serta derajat yang tinggi bagi hamba-Nya yang berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, keberadaan beliau di Damaskus mempertemukannya dengan guru utamanya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله. Beliau menyerap ketajaman metodologi kritik hadits dan penafsiran Al-Quran langsung dari sang guru dengan penuh kesetiaan. Beliau mengabaikan berbagai kesenangan duniawi demi memfokuskan seluruh waktu dan pikirannya pada penggalian khazanah ilmu keislaman yang murni. Maka, ketekunan tersebut melahirkan sosok ulama yang memiliki keluasan wawasan serta kedalaman analisis yang sangat menakjubkan.
Mahakarya Tafsir Al-Quran Al-Azhim dan Kejujuran Ilmiah
Selain ahli sejarah, Imam Ibnu Katsir رحمه الله merupakan penyusun kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) yang sangat fenomenal. Beliau menerapkan metode terbaik dalam menafsirkan Al-Quran, yaitu menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat lainnya, serta menguatkannya dengan hadits-hadits shahih. Beliau senantiasa memegang teguh prinsip kejujuran dalam beragama sesuai dengan perintah Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap uraian penafsiran dalam kitabnya selalu terhindar dari riwayat-riwayat palsu dan kisah Israiliyat yang tidak teruji keshahihannya. Beliau juga menulis mahakarya sejarah dunia yang berjudul Al-Bidayah wan Nihayah, sebuah catatan kronologis sejarah dari penciptaan alam semesta hingga akhir zaman. Sifat wara’ dan kebeningan niat beliau menjadikan karya-karyanya selalu diterima dengan penuh rasa hormat oleh seluruh generasi Muslim. Keberhasilan beliau terletak pada kemampuannya menyajikan rincian ilmu yang rumit menjadi penjelasan yang sangat padat dan menentramkan jiwa.
Keshalehan Spiritual dan Akhir Hayat Sang Ulama
Kemudian, sisi spiritual Imam Ibnu Katsir رحمه الله memancar kuat melalui ketakwaan, ibadah malam, dan kecintaannya yang mendalam terhadap Al-Quran. Beliau meyakini bahwa tanda utama dari seorang ulama sejati adalah memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, beliau terus mengajar dan menulis hingga akhir hayatnya meskipun beliau mengalami penurunan penglihatan di masa tuanya. Beliau sukses mendidik murid-murid hebat serta meninggalkan warisan perpustakaan ilmiah yang menjadi pilar penting peradaban Islam. Seluruh pengabdiannya yang tulus telah memperkaya dunia Muslim dengan metodologi penafsiran yang sangat murni dan berlandaskan Sunnah Nabi ﷺ.
Pada akhirnya, Imam Ibnu Katsir رحمه الله wafat di Damaskus pada tahun 774 Hijriah dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya sang penafsir Al-Quran dan sejarawan yang sangat agung. Namun, kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Bidayah wan Nihayah tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



