Adab Terhadap Rasulullah ﷺ

Mencintai dan Menghidupkan Sunnah

Setelah kita memahami adab kepada Allah ﷻ, maka tingkatan selanjutnya adalah memahami cara bersikap kepada utusan-Nya. Rasulullah ﷺ bukan sekadar penyampai risalah, melainkan sosok uswah hasanah yang wajib kita muliakan. Oleh karena itu, memiliki adab yang benar kepada beliau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesempurnaan iman seorang hamba.

Mencintai Rasulullah ﷺ Melebihi Segalanya

Landasan utama adab kepada beliau adalah rasa cinta yang tulus dan mendalam. Cinta ini bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan perasaan yang mendominasi hati hingga melebihi cinta kepada keluarga bahkan diri sendiri. Selain itu, rasa cinta inilah yang nantinya akan memudahkan kita untuk mengikuti setiap perintah beliau tanpa merasa berat.

Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku (Muhammad ﷺ) lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mentaati dan Mengikuti Sunnah Beliau

Selanjutnya, wujud nyata dari adab kepada Rasulullah ﷺ adalah ketaatan yang mutlak. Kita harus menerima setiap ketetapan beliau dengan lapang dada dan menjauhi segala larangannya. Di samping itu, seorang muslim yang beradab tidak akan mendahulukan logika atau perasaan pribadinya di atas hadits-hadits yang shahih.

Allah ﷻ menegaskan kewajiban mentaati Rasulullah ﷺ dalam Al-Qur’an:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul (Muhammad ﷺ) kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hashr: 7).

Ketaatan ini mencakup upaya kita untuk menghidupkan Sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpakaian hingga cara bergaul.

Bershalawat dan Mengagungkan Nama Beliau

Kemudian, adab yang sangat penting adalah senantiasa bershalawat ketika mendengar nama beliau ﷺ disebut. Orang yang enggan bershalawat justru termasuk orang yang bakhil atau kikir dalam pandangan syariat. Selain itu, kita juga harus menjaga kewibawaan beliau dengan tidak meninggikan suara atau berbicara tanpa dasar terhadap hadits-hadits beliau.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang kikir adalah orang yang apabila namaku (Muhammad ﷺ) disebut di sisinya, namun ia tidak bershalawat kepadaku. (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).

Menghormati Para Sahabat dan Ahlul Bait

Akhirnya, adab kepada Rasulullah ﷺ juga mencakup penghormatan kepada orang-orang yang beliau cintai. Kita wajib mencintai para Sahabat رضي الله عنهم dan Ahlul Bait beliau karena merekalah yang membantu perjuangan dakwah Islam. Oleh sebab itu, membenci atau mencela mereka merupakan bentuk ketidaksopanan terhadap Rasulullah ﷺ sendiri.

Sebagai penutup, mari kita evaluasi sejauh mana adab kita kepada sang teladan mulia ini. Dengan mengikuti tuntunan beliau secara kaffah, kita berharap bisa mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak. Semoga Allah ﷻ memudahkan kita untuk terus istiqomah di atas Sunnah beliau sampai ajal menjemput.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top