Sejarah dan Hikmah Ibadah Haji Bagi yang Mampu

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang menjadi dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Selain sebagai bentuk ketaatan, ibadah ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan mendalam. Oleh karena itu, memahami sejarah dan hikmahnya akan menambah kekhusyukan bagi siapa saja yang melaksanakannya.

Akar Sejarah Ibadah Haji

Sejarah haji tidak dapat terlepas dari perjuangan Nabi Ibrahim عليه السلام dan keluarganya. Allah ﷻ memerintahkan beliau untuk membangun kembali Ka’bah sebagai pusat peribadatan manusia. Kemudian, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim عليه السلام untuk memanggil manusia agar datang berhaji. Allah ﷻ berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS. Al-Hajj: 27).

Selanjutnya, syariat ini diteruskan dan disempurnakan oleh Rasulullah ﷺ pada tahun kesepuluh Hijriah. Sejak saat itu, jutaan umat Islam setiap tahunnya berkumpul di tanah suci untuk memenuhi panggilan Allah ﷻ.

Syarat Mampu dalam Ibadah Haji

Meskipun haji adalah kewajiban, namun Allah ﷻ hanya memberikan beban ini kepada mereka yang mampu secara fisik maupun finansial. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan pemeluknya. Allah ﷻ menegaskan syarat kemampuan tersebut dalam Al-Qur’an:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS. Ali ‘Imran: 97).

Di samping itu, Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar gembira bagi mereka yang melaksanakan haji dengan ikhlas dan benar. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Hikmah di Balik Ibadah Haji

Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam rangkaian manasik haji. Salah satunya adalah sebagai ajang penyucian jiwa dari segala dosa masa lalu. Sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia kembali suci sebagaimana hari ia dilahirkan oleh ibunya (HR. Bukhari).

Selain itu, haji mengajarkan nilai persamaan derajat manusia di hadapan Allah ﷻ. Semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa melihat status sosial ataupun kekayaan. Dengan demikian, ibadah ini memperkuat rasa ukhuwah Islamiyah antar umat dari berbagai belahan dunia.

Kesimpulan

Akhirnya, ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang menggabungkan pengorbanan harta, tenaga, dan waktu. Namun, bagi setiap muslim yang mampu, kesempatan ini merupakan sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa berdoa agar Allah ﷻ memampukan kita untuk bersimpuh di Baitullah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top