Adab di Kamar Mandi (Thaharah)

Hal-Hal yang Sering Terlupakan

Kamar mandi merupakan tempat yang senantiasa kita kunjungi setiap hari untuk membersihkan diri dari kotoran dan najis. Namun, sebagai tempat yang identik dengan kotoran, lokasi ini juga menjadi sarang bagi syaitan. Oleh karena itu, Islam mengatur adab di kamar mandi secara terperinci agar kita senantiasa terhindar dari keburukan dan gangguan makhluk halus.

Membaca Doa Perlindungan Sebelum Masuk

Langkah awal sebelum kita melangkah ke dalam kamar mandi adalah memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari godaan syaitan. Kita melangkah masuk menggunakan kaki kiri terlebih dahulu sebagai bentuk etika ketika memasuki tempat yang kotor. Di samping itu, membaca doa perlindungan akan menjadi benteng gaib yang menghalangi pandangan jin dari aurat kita.

Anas bin Malik رضي الله عنه mengisahkan kebiasaan Rasulullah ﷺ sebelum memasuki tempat buang hajat:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Nabi ﷺ apabila hendak memasuki kamar mandi, beliau mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari syaitan jantan dan syaitan betina. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menjauhi Kiblat Saat Buang Hajat

Selanjutnya, adab penting yang sering kali terabaikan dalam bangunan modern adalah memperhatikan arah kiblat saat buang air. Syariat melarang keras seorang muslim menghadap atau membelakangi kiblat ketika sedang buang air besar maupun kecil. Oleh sebab itu, kita perlu memastikan posisi dan tata letak toilet di rumah sudah sesuai dengan petunjuk ini.

Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan larangan tegas dari Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menggunakan Tangan Kiri Saat Bersuci

Kemudian, Islam mengajarkan penghormatan terhadap anggota badan bagian kanan untuk hal-hal yang mulia dan bersih. Sebaliknya, kita menggunakan tangan kiri khusus untuk aktivitas bersuci (istinja) dari kotoran. Terlebih lagi, memegang kemaluan dengan tangan kanan saat buang air merupakan tindakan yang dilarang dalam syariat.

Abu Qatadah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menegaskan aturan ini dalam sabdanya:

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ

Janganlah salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang kencing, dan jangan pula bersuci dari buang hajat dengan tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengucapkan Istighfar Saat Keluar Kamar Mandi

Akhirnya, ketika selesai menuntaskan hajat dan bersuci, kita melangkah keluar dengan mendahulukan kaki kanan. Kita memanjatkan doa permohonan ampunan kepada Allah ﷻ karena telah berdiam diri di tempat yang tidak diperkenankan berzikir. Oleh karena itu, melafalkan doa keluar kamar mandi menjadi penutup rangkaian bersuci yang sangat sempurna.

Aisyah رضي الله عنها mengisahkan ungkapan yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ saat keluar dari tempat buang hajat:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ

Nabi ﷺ apabila keluar dari kamar mandi, beliau mengucapkan: Aku memohon ampunan-Mu. (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi).

Sebagai penutup, mari kita terapkan adab-adab sederhana ini dalam keseharian agar aktivitas thaharah kita bernilai pahala. Kita jadikan kebiasaan ini sebagai wujud ketaatan mutlak kepada petunjuk Nabi ﷺ. Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga kesucian lahir dan batin kita semua.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top