Sang Guru Al-Quran dari Kufah
Abdullah bin Habib bin Rabi’ah, atau yang lebih kondang dengan nama Abu Abdirrahman As-Sulami رحمه الله, merupakan tokoh besar dari generasi Tabi’in. Beliau lahir pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, namun beliau menimba ilmu secara mendalam dari para sahabat senior di Kufah. Namanya abadi dalam sejarah Islam sebagai salah satu pilar utama dalam transmisi bacaan Al-Quran yang kita baca hingga hari ini.
Pengabdian Tanpa Henti Terhadap Al-Quran
Awalnya, Abu Abdirrahman As-Sulami mempelajari Al-Quran langsung dari para sahabat besar seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنهم. Oleh karena itu, beliau memiliki sanad ilmu yang sangat kuat dan bersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ. Setelah menguasai ilmu tersebut, beliau kemudian membaktikan hidupnya untuk mengajar di Masjid Jami’ Kufah selama kurang lebih empat puluh tahun.
Beliau memegang teguh prinsip bahwa mempelajari dan mengajarkan Al-Quran adalah profesi yang paling mulia. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari).
Motivasi dari hadits inilah yang membuat Abu Abdirrahman As-Sulami tetap istiqamah mengajar meskipun usianya sudah sangat senja. Beliau tidak pernah mengharap imbalan duniawi, melainkan hanya mengharap ridha Allah ﷻ semata.
Kedalaman Ilmu dan Ketaatan Beragama
Selanjutnya, Abu Abdirrahman As-Sulami bukan hanya sekadar ahli dalam masalah bacaan (qira’at), tetapi beliau juga seorang ulama hadits yang terpercaya (tsiqah). Beliau mendidik murid-muridnya agar tidak hanya menghafal lafadz Al-Quran, tetapi juga memahami maknanya serta mengamalkan isinya. Allah ﷻ memuji orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan kitab-Nya melalui firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Quran) dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi (QS. Fatir: 29).
Oleh sebab itu, beliau menjadi rujukan utama bagi penduduk Kufah dalam urusan agama. Selain itu, beliau sangat terkenal karena sifatnya yang wara’ dan selalu menjauhi fitnah duniawi. Kedisiplinan beliau dalam mengajar telah melahirkan ribuan qari dan ulama besar yang menyebarkan cahaya Al-Quran ke seluruh penjuru dunia.
Kesaksian Para Ulama Terhadap Beliau
Kemudian, banyak ulama besar memberikan pujian atas dedikasi dan keikhlasan Abu Abdirrahman As-Sulami رحمه الله. Beliau sukses menjaga kemurnian bacaan Al-Quran di tengah meluasnya wilayah Islam. Walaupun beliau hidup di tengah pergolakan politik pada masanya, beliau tetap fokus pada tugas utamanya yaitu mencetak generasi penghafal Al-Quran.
Ketaatannya kepada Sunnah Nabi ﷺ menjadi cermin bagi setiap penuntut ilmu. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim).
Oleh karena itu, Abu Abdirrahman As-Sulami meyakini bahwa jalan Al-Quran adalah jalan yang paling cepat untuk menggapai surga-Nya. Maka, beliau menghabiskan seluruh sisa usianya di pojok masjid untuk menyimak setoran hafalan para muridnya.
Wafatnya Sang Pelayan Al-Quran
Pada akhirnya, Abu Abdirrahman As-Sulami رحمه الله wafat sekitar tahun 74 Hijriah pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan ilmu yang tak ternilai harganya bagi umat Islam. Meskipun beliau telah tiada, namun setiap kali kita membaca Al-Quran, maka pahala tersebut insyaAllah mengalir pula kepada beliau karena jasa-jasanya dalam menjaga sanad bacaan.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tergantung pada seberapa besar pengabdiannya terhadap Kitabullah. Selain itu, beliau membuktikan bahwa keistikamahan dalam satu bidang kebaikan akan membuahkan nama harum yang abadi. Walaupun jasadnya sudah menyatu dengan tanah, namun lantunan ayat suci Al-Quran akan terus mengenang jasa sang guru agung dari Kufah ini.


