Srikandi Perawat dan Pakar Fikih Wanita
Nusaibah binti Al-Harits, atau yang lebih populer dengan nama kunyah Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah رضي الله عنها, merupakan sosok sahabiyah mulia dari kaum Anshar. Beliau menjadi teladan nyata bagi Muslimah karena berhasil memadukan keberanian di medan perang dengan kedalaman ilmu agama. Terutama dalam urusan fikih wanita, beliau menjadi rujukan utama para sahabat dan Tabi’in karena pemahamannya yang sangat mendalam.
Perjuangan Nyata di Medan Jihad
Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها merupakan salah satu wanita yang aktif mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Beliau memiliki tugas khusus untuk mengurus logistik serta merawat para prajurit yang terluka di medan tempur. Hal ini membuktikan bahwa wanita memiliki peran strategis dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah ﷻ. Mengenai balasan amal bagi laki-laki dan wanita, Allah ﷻ berfirman:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain” (Ali ‘Imran: 195).
Selanjutnya, Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها menceritakan pengalamannya dalam sebuah hadits shahih. Beliau berkata: Aku ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ sebanyak tujuh kali. Aku berada di bagian belakang mereka, aku membuatkan makanan untuk mereka, mengobati yang terluka, dan merawat yang sakit (HR. Muslim).
Pakar Utama dalam Pemulasaraan Jenazah Wanita
Selain kegigihan di medan perang, Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها sangat mahir dalam urusan memandikan jenazah wanita. Rasulullah ﷺ memberikan kepercayaan penuh kepada beliau untuk memandikan putri tercinta beliau, Zainab رضي الله عنها. Dari praktik langsung inilah, para ulama kemudian mengambil banyak hukum fikih terkait penyelenggaraan jenazah.
Dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah رضي الله عنها, ia menceritakan instruksi Nabi ﷺ saat memandikan putri beliau:
اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا
Mandikanlah dia tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu, dengan air dan daun bidara, dan campurkanlah kapur barus pada siraman yang terakhir (HR. Bukhari dan Muslim).
Peran dalam Syiar Islam pada Hari Raya
Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها juga menjadi perawi kunci mengenai perintah bagi kaum wanita untuk menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan seluruh wanita, termasuk yang sedang haid, untuk keluar menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan syiar agama bagi seluruh kalangan tanpa terkecuali.
Dari Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها, beliau berkata: Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para wanita yang sedang haid dan wanita-pingitan pada dua hari raya, agar mereka menyaksikan jamaah kaum Muslimin dan doa mereka. Adapun wanita yang haid, mereka menjauhi tempat shalat (HR. Bukhari dan Muslim).
Warisan Ilmu dan Kedudukan di Bashrah
Pada masa tuanya, Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها memutuskan untuk pindah ke kota Bashrah dan menetap di sana. Beliau segera menjadi rujukan utama bagi penduduk Bashrah dalam mempelajari tata cara perawatan jenazah sesuai tuntunan Sunnah yang murni. Banyak ulama besar menimba ilmu langsung dari beliau karena kedalaman bimbingan yang beliau terima dari Rasulullah ﷺ.
Ternyata, beliau wafat sekitar tahun 70 Hijriah dengan meninggalkan warisan ilmu yang sangat berharga bagi umat. Kisah hidupnya membuktikan bahwa seorang Muslimah dapat memberikan kontribusi besar dalam bidang medis maupun pendidikan agama secara bersamaan. Akhirnya, semoga kita semua mampu mengambil pelajaran dari kegigihan dan ketelitian beliau dalam menjaga syariat Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



