Wanita Pemberani dan Ibunda Ulama
Lubābah binti Al-Harits, yang lebih akrab dengan sapaan Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها, merupakan sosok wanita agung dalam sejarah awal Islam. Beliau adalah istri dari paman Nabi ﷺ, yakni Al-Abbas bin Abdul Muthalib رضي الله عنه. Sejarah mencatat namanya sebagai wanita kedua yang memeluk Islam di Makkah setelah Ummul Mukminin Khadijah رضي الله عنها.
Keutamaan Iman yang Kokoh
Keimanan Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها sangatlah kuat meskipun hidup di bawah tekanan kaum musyrikin Makkah. Beliau tetap teguh memegang tauhid saat suaminya, Al-Abbas, belum menyatakan keislamannya secara terbuka. Keteguhan hati ini merupakan karunia besar dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Quran:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat (QS. Ibrahim: 27).
Selain itu, Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau adalah saudari kandung dari Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits رضي الله عنها. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ sering mengunjungi rumahnya dan memberikan penghormatan khusus kepadanya.
Keberanian Membela Agama
Keberanian Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها terlihat nyata saat peristiwa setelah Perang Badar. Ketika Abu Lahab menyiksa pelayan suaminya yang telah masuk Islam, beliau tidak tinggal diam. Beliau memukul Abu Lahab dengan sebuah kayu hingga melukainya sebagai bentuk pembelaan terhadap sesama Muslim.
Tindakan berani ini menunjukkan bahwa beliau tidak takut pada ancaman musuh-musuh Allah ﷻ. Sifat pemberani tersebut mengalir dalam diri anak-anaknya. Maka, tidak mengherankan jika putra-putranya tumbuh menjadi pejuang dan ulama yang sangat disegani dalam sejarah umat Islam.
Kecerdasan dalam Memahami Sunnah
Selanjutnya, Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها juga dikenal sebagai wanita yang sangat cerdas. Beliau pernah mengakhiri perdebatan para sahabat mengenai status puasa Rasulullah ﷺ pada hari Arafah. Diriwayatkan dari Ummu Al-Fadhl binti Al-Harits رضي الله عنها:
أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
Bahwa orang-orang berbantah-bantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi ﷺ. Sebagian berkata beliau puasa dan sebagian lain berkata tidak. Maka aku (Ummu Al-Fadhl) mengirimkan segelas susu kepada beliau saat beliau sedang wukuf di atas untanya, lalu beliau meminumnya (HR. Bukhari dan Muslim).
Mendidik Generasi Terbaik
Sebagai seorang ibu, beliau berhasil mendidik putra-putranya menjadi generasi emas. Salah satu putranya adalah Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما yang menjadi ahli tafsir terbaik sepanjang masa. Beliau senantiasa menanamkan rasa cinta kepada ilmu dan pengabdian kepada Islam sejak mereka masih kecil.
Keberhasilan dalam mendidik anak merupakan salah satu amalan yang sangat ditekankan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya (HR. Muslim).
Wafatnya Sang Mujahidah
Akhirnya, Ummu Al-Fadhl رضي الله عنها wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Beliau meninggalkan warisan berupa kemuliaan akhlak dan anak-anak yang shalih. Kehidupan beliau menjadi cermin bagi wanita Muslimah untuk tetap cerdas, berani, dan taat kepada Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



