Imam Ath-Thabari رحمه الله

Bapak Sejarah dan Guru Besar Ahli Tafsir

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Ath-Thabari رحمه الله lahir di kota Amul, wilayah Thabaristan, pada tahun 224 Hijriah. Beliau merupakan seorang raksasa intelektual dunia Islam yang sukses meletakkan fondasi utama dalam penulisan sejarah dan penafsiran Al-Quran. Masyarakat mengenal beliau sebagai sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa serta ketekunan yang tiada tandingannya dalam menghimpun ilmu-ilmu syariat. Beliau berhasil menyusun karya-karya monumental yang hingga detik ini tetap menjadi rujukan primer bagi para ulama dan penuntut ilmu di seluruh dunia.

Pengembaraan Ilmiah dan Semangat Mencari Kebenaran

Awalnya, Imam Ath-Thabari رحمه الله menunjukkan bakat keilmuannya sejak masa kanak-kanak dengan menghafal Al-Quran pada usia tujuh tahun. Beliau kemudian memulai pengembaraan ilmiahnya pada usia muda dengan mendatangi pusat-pusat ilmu seperti Baghdad, Mesir, hingga wilayah Syam. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang beriman serta memiliki ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu sukses mempertemukannya dengan para guru besar yang ahli dalam bidang hadits dan fikih. Beliau tidak hanya sekadar mengumpulkan informasi, namun juga sangat tajam dalam menganalisis setiap riwayat yang beliau dapatkan selama perjalanan. Maka, pengakuan luas dari para ulama sezamannya menjadikan beliau sebagai salah satu imam mujtahid yang memiliki madzhab sendiri pada masanya. Beliau memahami bahwa mengabdikan diri pada ilmu merupakan bentuk pengamalan tertinggi dari perintah Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Mahakarya Tafsir dan Sejarah Dunia

Selain ahli hadits, Imam Ath-Thabari رحمه الله sangat terkenal melalui karya agungnya yang berjudul Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an. Beliau menyusun tafsir tersebut dengan metodologi yang sangat sistematis melalui penyebutan sanad hadits serta analisis bahasa yang sangat mendalam. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, setiap ulasan beliau dalam kitab sejarahnya yang berjudul Tarikh al-Rusul wa al-Muluk juga menjadi standar emas bagi para sejarawan. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai integritas dengan cara mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting umat manusia secara objektif dan jujur. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat mandiri secara finansial serta sangat menjaga diri dari harta penguasa guna menjaga kemurnian fatwanya. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya tetap istiqamah dalam menulis meskipun beliau harus menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk berkarya. Beliau berhasil membuktikan bahwa dedikasi yang tulus terhadap literasi Islam akan melahirkan warisan yang tak lekang oleh waktu bagi umat.

Keshalehan Pribadi dan Wafatnya Sang Imam

Kemudian, sisi spiritual Imam Ath-Thabari رحمه الله terpancar melalui ketekunannya dalam menjalankan ibadah serta kehidupannya yang jauh dari gemerlap duniawi. Beliau meyakini bahwa kedalaman ilmu syariat haruslah membuahkan rasa takut yang sangat besar kepada Sang Pencipta dalam setiap detak jantungnya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama hebat yang terus menjaga keaslian pemahaman ajaran Islam. Beliau sukses menempatkan diri sebagai salah satu pilar peradaban melalui puluhan karya tulisnya yang sangat sistematis dan tepercaya bagi dunia. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat pemaaf meskipun beliau sering kali mendapatkan ujian berupa hasad dari orang-orang di sekitarnya. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah intelektual Muslim dengan dokumentasi sejarah dan tafsir yang sangat akurat.

Pada akhirnya, Imam Ath-Thabari رحمه الله wafat di kota Baghdad pada tahun 310 Hijriah dalam usia delapan puluh enam tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia Islam karena hilangnya sang matahari ilmu dari Thabaristan. Meskipun raga beliau telah tiada, namun karya-karya tafsir dan sejarahnya tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran sejati. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keikhlasan dalam menulis akan membuahkan pahala yang terus mengalir bagi peradaban manusia.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top