Menjaga Waktu dari Hal Sia-sia

Bulan Sya’ban merupakan waktu yang sangat berharga bagi setiap individu Muslim untuk melatih kedisiplinan diri. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, seorang hamba perlu memastikan bahwa setiap detiknya memiliki nilai ibadah di sisi Allah ﷻ. Seseorang yang membiarkan waktunya terbuang dalam kesia-siaan pada bulan Sya’ban akan merasa kesulitan saat harus fokus beribadah penuh pada bulan suci nanti.

Tanda Kebaikan Islam Seseorang

Menjaga waktu dari perkara yang tidak bermanfaat merupakan indikator utama dari kualitas keislaman seorang hamba yang jujur. Rasulullah ﷺ memberikan pedoman yang sangat jelas agar umatnya tidak terjebak dalam aktivitas yang hanya membuang energi tanpa pahala. Penjelasan tersebut terekam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi nomor 2317).

Menghindari Kelalaian di Bulan Sya’ban

Bulan ini sering kali menjadi masa di mana banyak orang merasa santai sehingga tanpa sadar mereka terjerumus dalam kelalaian yang panjang. Padahal, Sya’ban adalah momen di mana Allah ﷻ meninjau seluruh catatan amal tahunan kita sebelum berganti dengan lembaran baru. Allah ﷻ secara tegas memperingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan modal utama berupa waktu yang telah Dia berikan.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al-‘Ashr: 1-3).

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa setiap desahan nafas kita akan mendapatkan pertanggungjawaban yang sangat teliti di hari kiamat kelak. Seseorang yang cerdas akan memilih untuk menyibukkan dirinya dengan tilawah atau dzikir daripada sekadar berbincang hal yang tidak berujung. Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan Sya’ban sebagai ajang latihan untuk meminimalisir segala bentuk laghwu (perbuatan sia-sia).

Langkah Praktis Mengatur Waktu

Kita dapat memulai manajemen waktu ini dengan cara membatasi penggunaan media sosial yang sering kali menyita banyak perhatian tanpa arah. Selain itu, mari kita buat daftar prioritas ibadah harian agar setiap jam yang kita lalui memberikan dampak positif bagi jiwa. Kesungguhan dalam menjaga waktu di bulan Sya’ban akan membentuk mentalitas pemenang saat kita memasuki medan perjuangan di bulan Ramadhan.

Apabila waktu sudah tertata dengan rapi, maka ketenangan batin akan menyertai setiap aktivitas keseharian kita di dunia ini. Kekuatan seorang mukmin terletak pada kemampuannya untuk membedakan antara kebutuhan hakiki dengan kesenangan sesaat yang melalaikan. Maka dari itu, gunakanlah sisa waktu di bulan Sya’ban ini sebagai investasi terbaik untuk meraih rida-Nya secara maksimal.

Menuju Ramadhan dengan Fokus Tinggi

Menjaga waktu bukan berarti meninggalkan istirahat, melainkan menempatkan segala sesuatu pada porsi yang telah Allah ﷻ ridai. Sya’ban mengajarkan kita bahwa kesiapan spiritual bermula dari kemampuan kita menghargai setiap detik yang masih tersisa dalam hidup. Jadi, marilah kita tutup pintu kesia-siaan sekarang juga agar kita meraih kemenangan yang sesungguhnya di bulan penuh ampunan nanti.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top