Menjaga Shalat: Awal dan Pilar Hijrah Hati

Shalat sebagai Tolak Ukur Hijrah Seorang Muslim

Hijrah bukan hanya berpindah tempat atau meninggalkan dosa secara fisik, tetapi dimulai dari hati yang tertaut kepada Allah ﷻ. Dan fondasi utama hijrah hati adalah shalat. Ketika seseorang mulai memperbaiki shalatnya, maka ia telah membuka jalan hijrah yang paling besar dalam hidupnya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (dalam shalat) itu lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)

Ayat ini menjadi dasar bahwa shalat adalah penjaga utama hati dan perilaku, menjauhkan pelakunya dari dosa dan menguatkan tekad hijrah kepada Allah ﷻ.


Shalat sebagai Amal yang Pertama Kali Dihisab

Dalam hadits dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ، فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya rusak, maka dia merugi dan binasa.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Ini menunjukkan betapa besar posisi shalat dalam timbangan amal. Maka, hijrah yang tidak dimulai dari memperbaiki shalat adalah hijrah yang belum sempurna.


Tanda Orang yang Lalai: Meninggalkan Shalat Tepat Waktu

Allah ﷻ menyebutkan ancaman keras bagi orang-orang yang melalaikan shalatnya:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Mā’ūn: 4–5)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa “sāhūn” di sini bukan berarti tidak shalat sama sekali, tetapi shalat dengan lalai dan meremehkannya, baik dalam waktu, kekhusyukan, maupun adabnya.


Ciri Shalat yang Menjaga Hati

Shalat yang menjadi pilar hijrah hati bukan sekadar gerakan fisik. Ia adalah bentuk tunduk batin kepada Allah ﷻ yang mencerminkan:

  • Ketepatan waktu – sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisā’: 103, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

  • Kekhusyukan – sebagai ciri mukmin sejati (QS. Al-Mu’minūn: 1–2).

  • Ketaatan total dalam rukun dan sunnahnya.

  • Buahnya tampak dalam akhlak sehari-hari.


Perbaiki Shalat, Maka Hati akan Terbimbing

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan:

“Barangsiapa yang benar shalatnya, maka semua amalnya akan benar. Dan barangsiapa rusak shalatnya, maka amalnya yang lain akan cenderung rusak.”

Ini karena shalat adalah tiang agama dan kompas bagi hati seorang Muslim. Orang yang menjaga shalat akan lebih mudah menjaga lisannya, matanya, hartanya, dan seluruh anggota tubuhnya.


Penutup: Awali Hijrahmu dengan Shalat

Wahai saudaraku, jika engkau ingin berubah, ingin hijrah menuju Allah ﷻ, maka perbaikilah shalatmu. Jadikan ia prioritas, bukan pelengkap. Shalat adalah kunci keberhasilan dunia dan akhirat, serta bukti kesungguhan cinta kita kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top