Melatih Nafsu dari Kesenangan Dunia

Bulan Sya’ban merupakan masa yang sangat menentukan bagi seorang mukmin untuk menjinakkan keinginan nafsunya. Sebelum memasuki Ramadhan, kita perlu memberikan perhatian serius pada upaya pengendalian diri dari keterikatan duniawi yang berlebihan. Seseorang yang membiarkan nafsunya bermanja-manja dengan kesenangan dunia akan merasa sangat berat ketika harus menahan diri pada bulan suci nanti.

Hakikat Pengendalian Nafsu

Melatih nafsu bukan berarti kita harus meninggalkan dunia secara total, melainkan meletakkan dunia hanya di tangan dan bukan di hati. Ketika seseorang mampu mengendalikan keinginannya, maka ia akan lebih mudah memprioritaskan ketaatan kepada Allah ﷻ di atas segalanya. Allah ﷻ secara tegas memberikan peringatan mengenai kecenderungan nafsu manusia yang selalu mengajak pada keburukan jika tidak hamba bentengi dengan iman.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf: 53).

Bahaya Menuruti Syahwat Dunia

Rasulullah ﷺ sering memberikan motivasi agar umatnya senantiasa waspada terhadap fitnah dunia yang dapat melalaikan tujuan akhirat. Melalui penuturan sahabat Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, kita memahami bahwa kecintaan pada Allah ﷻ akan tumbuh saat seseorang menjauhkan diri dari ketamakan dunia. Keberhasilan seorang hamba dalam melatih nafsunya di bulan Sya’ban akan membuahkan kemanisan ibadah yang luar biasa pada masa yang akan datang.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi رضي الله عنه, beliau berkata: Seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan, maka Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku.” Beliau ﷺ bersabda: “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah, Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan Ibnu Majah nomor 4102).

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa Sya’ban adalah waktu yang ideal untuk melakukan “detoksifikasi” ruhani secara rutin. Seseorang yang sudah terbiasa menahan diri dari kemewahan yang tidak perlu akan merasa lebih ringan saat menjalankan kewajiban puasa. Jadi, marilah kita mulai melatih lisan dan mata agar tidak selalu menuntut pemuasan keinginan duniawi yang bersifat semu.

Strategi Praktis Menjinakkan Nafsu

Kita dapat memulai latihan ini dengan cara mengurangi porsi makan dan tidur secara bertahap setiap harinya. Selain itu, mari kita batasi penggunaan media sosial atau hiburan yang hanya memberikan kesenangan sesaat namun melalaikan dzikir. Kesungguhan dalam melatih nafsu di bulan Sya’ban akan membentuk mentalitas yang kuat agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh gemerlap dunia.

Apabila nafsu sudah terkendali dengan baik, maka ketenangan batin akan menyertai setiap langkah aktivitas kita sehari-hari. Kekuatan seorang mukmin terletak pada kemampuannya untuk tetap fokus pada rida Allah ﷻ meskipun godaan duniawi sangat menggiurkan. Maka dari itu, gunakanlah bulan Sya’ban ini sebagai momentum untuk meraih kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya dari penjara hawa nafsu.

Menuju Ramadhan dengan Jiwa Merdeka

Melatih nafsu bukan hanya soal aktivitas lahiriah, melainkan tentang kejujuran seorang hamba untuk tunduk sepenuhnya kepada aturan Sang Pencipta. Sya’ban mengajarkan kita bahwa keberhasilan di bulan Ramadhan bermula dari keseriusan kita mendidik nafsu di bulan ini. Jadi, marilah kita persembahkan ketaatan terbaik kita sebagai bentuk perlawanan terhadap keinginan rendah yang dapat merusak kualitas takwa kita.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top