Sang Guru Besar Imam Abu Hanifah
Hammad bin Abi Sulaiman رحمه الله merupakan tokoh sentral dalam sejarah perkembangan fikih di wilayah Irak, khususnya kota Kufah. Beliau lahir sebagai putra dari seorang tawanan perang asal Isfahan yang kemudian memeluk Islam dan menetap di tengah peradaban ilmu. Sejarah mencatat namanya sebagai mata rantai terpenting yang menghubungkan keilmuan para sahabat Nabi ﷺ dengan madzhab-madzhab fikih besar setelahnya.
Pewaris Sanad Keilmuan Ibnu Mas’ud
Awalnya, Hammad bin Abi Sulaiman رحمه الله menimba ilmu secara mendalam dari gurunya yang sangat fenomenal, Ibrahim An-Nakha’i. Melalui jalur ini, beliau menyerap warisan fatwa dan pemahaman fikih dari sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi mereka yang memiliki pemahaman agama yang mendalam. Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, Hammad tumbuh menjadi ulama paling terpandang di Kufah setelah wafatnya Ibrahim An-Nakha’i. Beliau memiliki kemampuan logika yang tajam serta penguasaan dalil yang sangat luas dalam memutuskan perkara hukum. Oleh karena itu, majelis ilmu beliau selalu penuh sesak oleh para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru negeri Islam.
Kedermawanan dan Kemuliaan Hati
Selain cerdas, Hammad bin Abi Sulaiman رحمه الله sangat terkenal karena sifat kedermawanannya yang luar biasa kepada fakir miskin. Beliau merupakan seorang saudagar kaya yang tidak pernah membiarkan hartanya mengendap tanpa memberikan manfaat bagi sesama. Beliau memahami bahwa keberkahan harta terletak pada kerelaan untuk berbagi sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Sedekah itu tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, Hammad seringkali menjamu ratusan orang untuk berbuka puasa setiap malam di bulan Ramadhan. Beliau juga sangat memperhatikan kesejahteraan para muridnya agar mereka dapat fokus belajar tanpa terbebani masalah ekonomi. Ketulusan beliau dalam berkhidmat kepada ilmu dan manusia menjadikannya sosok yang sangat dihormati sekaligus dicintai oleh penduduk Kufah.
Mendidik Sang Imam Agung Abu Hanifah
Kemudian, jasa terbesar Hammad bin Abi Sulaiman رحمه الله bagi umat Islam adalah keberhasilannya dalam mendidik Imam Abu Hanifah. Selama delapan belas tahun, Abu Hanifah setia mendampingi Hammad untuk menyerap setiap tetes ilmu fikih dan metode ijtihadnya. Beliau senantiasa mendorong murid-muridnya untuk selalu berpegang teguh pada kejujuran dalam menyampaikan kebenaran.
Allah ﷻ memerintahkan setiap mukmin untuk selalu bersama orang-orang yang jujur dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (QS. At-Taubah: 119).
Oleh karena itu, pondasi madzhab Hanafi sebenarnya sangat dipengaruhi oleh metode pengajaran dan ketelitian Hammad bin Abi Sulaiman. Beliau sukses menanamkan prinsip-prinsip hukum yang kuat sehingga murid-muridnya mampu mengembangkan ijtihad yang sangat relevan. Ketekunan beliau dalam mengajar telah mencetak generasi ulama yang menjadi pilar peradaban hukum Islam hingga saat ini.
Wafatnya Sang Pendidik Ulung
Pada akhirnya, Hammad bin Abi Sulaiman رحمه الله wafat pada tahun 120 Hijriah di kota Kufah. Kepergian beliau meninggalkan luka yang mendalam bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya bagi murid kesayangannya, Abu Hanifah. Meskipun raga beliau telah tiada, namun setiap ijtihad dalam madzhab Hanafi menjadi saksi atas keberkahan ilmu yang beliau ajarkan.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kekayaan dunia harus menjadi sarana untuk meraih kemuliaan akhirat. Beliau membuktikan bahwa kesabaran dalam mendidik murid akan membuahkan pahala jariyah yang tidak pernah terputus. Walaupun zaman terus berganti, sosok Hammad bin Abi Sulaiman akan selalu sejarah kenang sebagai guru agung yang penuh cinta.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



