Bahaya Lalai di Bulan Sya’ban

Banyak manusia sering kali terjebak dalam euphoria setelah melewati bulan Rajab atau terlalu fokus menunggu datangnya Ramadhan. Keadaan ini menyebabkan satu waktu yang sangat berharga berlalu begitu saja tanpa makna yang berarti bagi jiwa. Bulan Sya’ban akhirnya menjadi masa yang sepi dari aktivitas ibadah karena banyak orang menganggapnya hanya sebagai waktu istirahat.

Mengapa Rasulullah ﷺ Memberi Peringatan?

Rasulullah ﷺ secara khusus menyoroti fenomena kelalaian ini agar umat beliau tidak kehilangan momentum emas sebelum bulan suci tiba. Beliau ﷺ memahami bahwa kecenderungan manusia adalah meremehkan sesuatu yang berada di antara dua hal yang besar. Penjelasan mengenai bahaya kelalaian ini termaktub dalam hadits dari sahabat Usamah bin Zaid رضي الله عنهما.

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما, beliau berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau ﷺ menjawab: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal ibadah naik kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amalku naik saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani menilai hasan hadits ini dalam Shahih Sunan An-Nasa’i nomor 2357).

Dampak Buruk Melewatkan Sya’ban

Seseorang yang membiarkan dirinya lalai di bulan Sya’ban biasanya akan mengalami kesulitan saat memasuki bulan Ramadhan. Tanpa pemanasan spiritual yang cukup, jiwa akan terasa kaku dan berat untuk melaksanakan ketaatan yang lebih intensif kelak. Akibatnya, mereka sering kali menghabiskan minggu-minggu pertama Ramadhan hanya untuk beradaptasi, bukan untuk meraih puncak pahala.

Selain itu, kelalaian menunjukkan kurangnya rasa syukur hamba terhadap kesempatan waktu yang Allah ﷻ berikan untuk bertaubat. Padahal, Allah ﷻ telah mengingatkan manusia agar tidak menjadi hamba yang melupakan Rabb-Nya. Allah ﷻ berfirman dalam ayat-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19).

Keutamaan Beramal Saat Manusia Lupa

Para ulama menjelaskan bahwa melakukan ketaatan di waktu mayoritas orang sedang lalai memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Hal ini menunjukkan kesetiaan seorang hamba yang tetap mengingat Allah ﷻ meskipun lingkungan sekitarnya sedang sibuk dengan urusan dunia. Sya’ban adalah ujian kejujuran iman sebelum kita benar-benar memasuki medan perang besar di bulan puasa nanti.

Kita perlu menyadari bahwa setiap detik di bulan ini merupakan bagian dari laporan tahunan yang akan segera tertutup. Maka dari itu, mengabaikan Sya’ban berarti membiarkan catatan amal tahunan kita berakhir dengan catatan kelalaian yang menyedihkan.

Mengatasi Kelalaian dengan Ilmu

Langkah pertama untuk menghalau kelalaian adalah dengan mempelajari kembali keutamaan-keutamaan yang ada pada bulan Sya’ban ini. Kemudian, kita harus memaksa diri untuk mulai melakukan ketaatan meskipun dalam porsi yang kecil namun dilakukan secara konsisten. Marilah kita bangun dari tidur spiritual ini agar kita tidak menyesal saat waktu penjemputan amal tiba secara tiba-tiba.

Keberhasilan di bulan Ramadhan sangat bergantung pada keseriusan hamba dalam menanam benih amal di bulan Sya’ban. Jadi, mari kita manfaatkan sisa waktu yang ada agar kita meraih keberkahan hidup dunia dan akhirat.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top