Samudra Ilmu dari Kufah
Amir bin Syurahbil bin Abdi Dzil Kibar As-Sya’bi رحمه الله, atau yang lebih kondang dengan sebutan Al-Imam Asy-Sya’bi, merupakan mercusuar ilmu pada masa Tabi’in. Beliau lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه dan tumbuh menjadi ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama. Keistimewaan utama beliau terletak pada kekuatan hafalan yang sangat luar biasa serta keluasan wawasannya dalam bidang hadits dan fikih.
Menimba Ilmu dari Ratusan Sahabat Nabi ﷺ
Awalnya, Asy-Sya’bi رحمه الله memiliki kesempatan emas untuk bertemu dan belajar langsung dari sekitar lima ratus sahabat Rasulullah ﷺ. Beliau sangat tekun mendatangi para pembesar sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Aisyah رضي الله عنهم guna menyerap warisan kenabian. Allah ﷻ memuji orang-orang yang senantiasa menuntut ilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, kekuatan ingatan Asy-Sya’bi menjadi buah bibir di kalangan para ulama. Beliau pernah mengaku bahwa beliau tidak pernah menulis di atas kertas dan tidak pula membiarkan seseorang membacakan hadits dua kali karena beliau langsung menghafalnya. Oleh karena itu, beliau sukses menjadi rujukan utama dalam menentukan keshahihan sebuah riwayat di wilayah Irak dan sekitarnya.
Ketelitian dalam Ilmu Hadits dan Fikih
Kemudian, Asy-Sya’bi رحمه الله memberikan kontribusi besar dalam menjaga kemurnian Sunnah Nabi ﷺ dari berbagai penyimpangan. Beliau sangat berhati-hati dalam menerima riwayat dan selalu menekankan pentingnya sanad yang jelas. Selain itu, beliau merupakan seorang fakih yang sangat cerdas dalam memutus perkara-perkara hukum yang rumit di tengah masyarakat.
Ketaatan beliau terhadap kebenaran selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ yang Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه riwayatkan:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap fatwa yang beliau keluarkan selalu berlandaskan pada dalil yang kuat dan pemahaman yang lurus. Beliau juga sukses mendidik murid-murid hebat yang kelak menjadi imam besar, seperti Abu Hanifah yang mengambil banyak pelajaran darinya. Selain ahli ilmu, beliau terkenal sebagai pribadi yang sangat jujur dan tidak mau menjilat kepada para penguasa demi keuntungan duniawi.
Kecerdasan Lisan dan Kemuliaan Akhlak
Selain pakar agama, Asy-Sya’bi رحمه الله merupakan seorang orator yang sangat fasih dan memiliki selera humor yang bijak. Beliau seringkali menggunakan kecerdasan lisannya untuk memberikan nasihat yang menyentuh hati tanpa menyakiti perasaan orang lain. Beliau meyakini bahwa akhlak mulia adalah perhiasan sejati bagi seorang mukmin yang berilmu. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya ucapan yang baik:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia (QS. Al-Baqarah: 83).
Oleh karena itu, majelis ilmu beliau selalu ramai oleh para penuntut ilmu yang ingin merasakan kesejukan nasihatnya. Beliau senantiasa menjauhkan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat dan lebih fokus pada pengamalan ilmu sehari-hari. Kerendahan hatinya membuat beliau sangat dicintai oleh kawan maupun lawan politiknya pada masa itu. Ketulusan beliau dalam berdakwah telah menjadikan Kufah sebagai salah satu pusat peradaban ilmu Islam yang paling cemerlang.
Wafatnya Sang Penjaga Sunnah
Pada akhirnya, Amir bin Syurahbil Asy-Sya’bi رحمه الله wafat pada tahun 103 Hijriah dalam usia yang cukup lanjut. Kepergiannya meninggalkan lubang yang sangat besar dalam khazanah keilmuan Islam, khususnya di bidang hadits dan sejarah. Meskipun raga beliau telah tiada, namun metode kritik hadits dan fatwa-fatwanya tetap abadi dan terus dipelajari oleh umat Islam hingga detik ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kecerdasan akal harus dibarengi dengan kebersihan hati dan kejujuran. Beliau membuktikan bahwa pengabdian tulus kepada ilmu akan membuahkan kemuliaan yang melampaui batas zaman. Walaupun dunia terus berubah, sosok Asy-Sya’bi akan selalu sejarah kenang sebagai samudera ilmu yang tak pernah kering dari tanah Kufah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



