Al-Khansa’ رضي الله عنها

Sang Penyair yang Teguh dalam Keimanan

Tumadhir binti Amru bin Al-Harith, atau yang lebih populer dengan nama Al-Khansa’ رضي الله عنها, merupakan sosok wanita yang sangat fenomenal dalam sejarah Islam. Dahulu, beliau adalah seorang penyair besar pada masa Jahiliyah yang sangat terkenal karena puisi-puisi ratapan kesedihannya. Namun, hidayah Islam kemudian mengubah jalan hidupnya menjadi seorang pejuang yang memiliki kesabaran luar biasa.

Perjalanan Menuju Cahaya Islam

Awalnya, Al-Khansa’ رضي الله عنها memeluk Islam bersama kaumnya dari kabilah Bani Sulaim. Beliau kemudian datang menemui Rasulullah ﷺ serta menyatakan kesetiaannya kepada agama tauhid. Meskipun beliau seorang penyair, Nabi ﷺ sendiri sangat mengagumi bakat syairnya dan sering meminta beliau untuk membacakannya. Perubahan besar ini terjadi dalam jiwanya setelah beliau mengenal kebenaran Al-Quran. Allah ﷻ berfirman:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? (QS. Az-Zumar: 22).

Setelah memeluk Islam, Al-Khansa’ رضي الله عنها tidak lagi meratapi kematian saudara-saudaranya sebagaimana kebiasaan masa Jahiliyah. Hal ini karena beliau kini memahami bahwa setiap mukmin harus menghadapi musibah dengan penuh keridhaan kepada takdir Allah ﷻ.

Kesabaran Ibu Sang Syuhada

Selanjutnya, ketangguhan iman Al-Khansa’ رضي الله عنها teruji secara nyata dalam Perang Qadisiyah yang sangat bersejarah. Beliau membawa keempat putranya ke medan pertempuran serta memberikan nasihat yang sangat menggetarkan jiwa. Dalam kesempatan itu, beliau mendorong anak-anaknya agar berjuang sampai titik darah penghabisan demi meraih kemenangan atau syahid di jalan Allah ﷻ.

Tak lama kemudian, berita sampai kepada beliau bahwa keempat putranya telah gugur sebagai syuhada di medan perang. Alih-alih meratap, beliau justru mengucapkan kalimat yang sangat masyhur: Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka semua. Beliau sungguh meyakini kebenaran janji Allah ﷻ bagi orang yang bersabar, sebagaimana firman-Nya:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (QS. Al-Baqarah: 155-156).

Keutamaan Syahid dalam Pandangan Beliau

Selain itu, Al-Khansa’ رضي الله عنها sangat mendambakan pertemuan kembali dengan anak-anaknya di dalam surga Allah ﷻ. Keyakinan kuat ini muncul karena beliau sangat memahami hakikat kemuliaan di jalan Allah ﷻ. Hal ini sejalan dengan hadits yang Anas bin Malik رضي الله عنه riwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَنْ لَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ الشَّهِيدُ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ

Tidak ada seorang pun yang telah masuk surga kemudian ingin kembali ke dunia meskipun dia mendapatkan seluruh isinya, kecuali orang yang mati syahid. Dia ingin kembali ke dunia lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena melihat kemuliaan (syahid tersebut) (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhir Hayat Sang Mujahidah

Pada akhirnya, Al-Khansa’ رضي الله عنها wafat pada masa awal kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه sekitar tahun 24 Hijriah. Beliau meninggalkan warisan berupa syair-syair islami serta teladan kesabaran yang tiada bandingnya. Oleh karena itu, kisah hidupnya senantiasa menjadi inspirasi bagi para ibu agar mereka mendidik anak-anak menjadi pembela agama yang tangguh.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top