Dalam Islam, iman bukan sekadar keyakinan yang tersimpan rapat di dalam hati atau sekadar ucapan lisan yang hampa. Iman yang benar adalah pohon yang akar-akarnya menancap kuat di dalam jiwa, sementara buahnya nampak nyata dalam bentuk akhlak mulia. Hubungan antara iman dan akhlak sangatlah erat; semakin sempurna iman seseorang, maka akan semakin baik pula perangai dan tutur katanya kepada sesama makhluk.
Misi Utama Pengutusan Rasulullah ﷺ
Salah satu tujuan utama Allah ﷻ mengutus Nabi Muhammad ﷺ ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan standar moral manusia. Akhlak adalah komponen yang tidak bisa dipisahkan dari risalah Islam. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’)
Berdasarkan hadits ini, jelaslah bahwa keberhasilan seorang muslim dalam memahami agamanya tercermin dari bagaimana ia bersikap jujur, amanah, santun, dan rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak sebagai Bukti Kesempurnaan Iman
Jika kita ingin melihat seberapa kuat iman seseorang, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Iman yang kokoh akan melahirkan pribadi yang tidak menyakiti, baik dengan tangan maupun lisan. Allah ﷻ memuji Rasulullah ﷺ karena akhlaknya yang luar biasa agung:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam: 4)
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menekankan kaitan antara iman dan akhlak:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Tirmidzi)
Beratnya Timbangan Akhlak di Hari Kiamat
Di hari kiamat kelak, tidak ada amalan timbangan yang lebih berat selain akhlak yang mulia. Ibadah ritual seperti shalat dan puasa memang sangat penting, namun akhlaklah yang akan menghiasi dan menyempurnakan timbangan tersebut. Dari sahabat Abu Darda رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’)
Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sosial
Seorang muslim yang bertauhid dengan benar akan menyadari bahwa Allah ﷻ senantiasa mengawasinya. Hal ini mendorongnya untuk memiliki akhlak sosial yang tinggi, seperti:
-
Berkata baik: Tidak mencela, memfitnah, atau berbohong.
-
Sabar: Menahan diri saat marah dan memaafkan kesalahan orang lain.
-
Dermawan: Membantu sesama tanpa mengharap imbalan.
Kesimpulan
Akhlak mulia adalah identitas sejati seorang muslim. Jangan sampai kita rajin beribadah secara ritual namun lisan kita menyakiti tetangga atau perbuatan kita merugikan orang lain. Mari kita jadikan iman sebagai pondasi dan akhlak mulia sebagai buahnya, agar kehadiran kita di dunia membawa rahmat bagi semesta alam dan kelak mendapatkan kedudukan yang dekat dengan Rasulullah ﷺ di surga.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

